Seorang pria terlihat duduk menyendiri di sudut utara lobi sebuah Rumah Sakit (RS). Tangan kanannya, menyanggah keningnya, seolah sedang berpikir. Pakaiannya lusuh, rambutnya sedikit beruban.
"Saya bingung mau memindahkan anak saya untuk rawat inap," jelas pria yang ternyata bernama Lan pada Jumat (21/11) siang. Ia sudah tiga hari menunggu anaknya, Sukmana, di Unit Gawat Darurat (UGD). Bahkan, Lan mengaku anaknya belum di kasih obat, hanya diberikan infus dan tranfusi darah.
"Lalu untuk apa saya punya ini," ujarnya seraya mengeluarkan berkas Jamkesmas dari ransel hitamnya. Pria yang berusia 65 tahun ini mengaku bingung bagaimana mengurus Jamkesmas agar anaknya dipindah ke ruang inap.
Lalu, kami menuju loket Jamkesmas, kemudian dioper ke Pelayanan Inap. Oleh petugas inap, Lan disarankan meminta surat diagnosa di ruang UGD. Atas sedikit desakan, petugas Layanan inap menjelaskan bahkan membantu Lan meminta surat diagnosa.
Setelah mendapatkan diagnosa, Lan, menuju bagian keuangan yang terletak sekitar 200 meter dari UGD. Namun, sampai di bagian keuangan, pria yang jalannya tertatih ini ditolak. "Bukan di sini, harusnya minta keterangan dari loket Jamkesmas," tegas petugas dengan intonasi tinggi.
Pria yang bekerja sebagai petani tomat ini kemudian kembali menuju loket Jamkesmas yang ternyata sedang tutup. "Tunggu sampai pukul 15.00, petugasnya lagi rapat," jelas petugas Pelayanan Inap.
Setelah berada di loket, pihak Jamkesmas meminta persetujuan dokter. Kami kemudian menuju ruang bedah. Di sana, terlihat beberapa dokter sedang sibuk menangani pasien. Ketika dikomfirmasi kepada dokter yang berbadan tambun, ia menolak dengan alasan Sukmana masih harus menjalani observasi.
Dokter yang membalikkan kartu identitasnya ini juga menolak memberikan namanya. Bahkan, ia juga enggan menyebutkan siapa dokter yang bertanggungjawab merawat Sukmana.
Lan, kembali ke tempat Sukmana yang terbaring. "Sabar ya," jelas Lan kepada anak dan istrinya. Sukmana hanya terlihat mengangguk seraya terbaring lemah. Lan, merupakan satu diantara berjuta warga miskin di negara ini. Ia tidak memiliki uang yang cukup. Bahkan, untuk membayar fotokopi sebesar Rp 1500, pria renta ini tidak mampu.
Ini adalah satu sepenggal kisah nyata, bagaimana orang miskin yang memang terpinggirkan. Lan, yang memiliki pendidikan rendah, tidak tahu proses birokrasi yang berbelit. Ia hanya segelintir manusia yang susah mendapatkan fasilitas layak. Menjadi renungan kita bersama, sebagai generasi bangsa.
5 komentar:
Masya allah. Kasihan ya. Orang miskin selalu terpinggirkan. Negara kita ini memang negara yang rusak. Klo di eropa sana, pengemis udah pada kaya. Di sini pejabatnya yang kaya makan duit pengemis. Semoga Indonesia ke depan menjadi negara yang lebih baik. Hak2 kaum kecil tidak lagi diabaikan. Salam Kenal ya. From Lampung With Love. Keep writing.Ciao!!!!
terlalu sering saia denger kisah beginian, jadi malu sendiri, cape sendiri bang!asli deh !
malu, soalnya jurusan saia itu manajemen asuransi, sementara sistem asuransi indonesia itu terparah di asean, paling parah!
gini, letak masalah sebenernya **menurut saia yaa, bukan karena birokrasi, tapi karena oknum, oknum2 yang selalu membuat orang2 miskin terjerat dalam sistem,**sama juga birokrasi ya, hoho..
coba kalo sistemnya, minimal kaya di thailand aja, cuma modal 30baht aja sebagai copayment, wah, sampe hemodialisa aja ditanggung!
au ah,
indonesia itu uang ada, otak yang gak ada, ahahha
semoga saia nanti gak kaya gitu kalo dah gedeee, amiiin..
baca postingan saya yang judulnya "apa salah mereka?" deh, tgl 1 september 2008... =D
ya gapapa, itu kan cuma tulisan iseng aja ga bermaksud membahas apapun, ngambang juga gapapa... hehehe... cuma agak nyambung dikit doang... thanks ya...
potret masyarakat kita.. nyata n dekat banget. Susah mau mengentaskannya, mau di mulai dari SDM nya atau pemerintahnya, atau infrastrukturnya.. mari kita mulai dari diri sendiri dan orang terdekat kita..
Posting Komentar