Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

15 November 2008

Berkontemplasi Sejenak

Ruang lingkup romantisme tidak mengenal batas kehidupan seseorang. Ia mampu menembus tembok setebal apa pun. Kekuatan abstraksinya begitu mengagumkan, mengejutkan banyak pihak. Semua makhluk hidup butuh kehadirannya, mau atau tidak, suka atau benci.

Terdapat dua fitrah dalam diri manusia, nafsu dan penalaran (logika). Inti dari proses hidup berjalan dengan kedua organ tersebut sebagai pengendali kelakuan dan sikap manusia.

Terkadang kita menganggap tahu betul diri bagaimana diri kita sebenarnya. Namun, dapat dipastikan, kita hanya tahu ranah permukaan dalam diri. Terlebih ada manusia yang mengaku mengetahui diri manusia yang lain.

“Manusia dipengaruhi lingkungan di sekitarnya,” kata Robert Owen dalam kisah singkat dirinya yang ditulis Frans Magniz-Suzeno. Satu fakta bahwa manusia benar-benar tidak tahu akan dirinya sendiri.

Kebenaran itu relatif merupakan kekuatan rasionalitas dalam meraih pendukung melalui argumentasi. Tentunya dalam ruang lingkup manusia. Kebenaran yang mutlak yang dimiliki-Nya merupakan kekuatan spiritual, sisi lain dari rasionalisasi. Filsafat Hegel merupakan contoh perkembangan rasionalisasi.

Manusia memiliki batas dalam berpikir. Tapi ilmu pengetahuan terus melakukan evolusi. Batasan itu melemahkan manusia untuk mengembangkan tahap logika. Lima indera menjadi satu tolak ukur dalam merespon keadaan di sekitar. Namun, ia tidak mampu menjangkau jarak terdekat dan yang ada di dalam diri kita. Perasaan, logika, dan misteri Illahi.

Bertanyalah pada diri masing-masing. Apakah tujuan hidup kita? Jika mampu menjawabnya, itu tanda bahwa anda tahu bagaimana keadaan diri seutuhnya. Namun, bercermin kembali ketika pertanyaan itu telah terjawab. Apakah selama hidup sudah meraih apa yang menjadi tujuan kita? Pertanyaan itu terus bermunculan seiring manusia yang terus berpikir, tanda bahwa manusia masih hidup.

Sering terdengar kata wajar, ketika manusia melakukan kesalahan. Wajar menjadi normatif dan bisa berarti menjadi legitimasi bagi kesalahan manusia itu. Bahkan, mereka melemahkan dirinya sendiri ketika muncul satu kalimat, “Namanya saja manusia”.
Tentu pengulangan lain akan dilakukan dan tetap saja dengan komentar sama.

Perumusan dan evaluasi idealnya terus dilakukan secara kontinu. Dengan konsep masing-masing. Belajarlah tentang moralitas. Jadikan sebagai pilar pondasi kerangka pemikiran yang kokoh. Tentu dengan melakukan kontemplasi sejenak.

1 komentar:

ROe Salampessy mengatakan...

hmmm.. boleh juga! kontemplasi sejenak!