Welcome to The Psycho...

Selamat bergabung, dengan dunia di mana tertumpah ide-ide gila namun konstruktif.... Di sini, tanpa jubah dari golongan manapun!

03 Februari 2010

Hidup Bagai Topeng Monyet


NYARIS di satu sudut yang ada di perempatan lampu merah di kota ini, ada seekor monyet dan seorang pawangnya. Mereka disebut topeng monyet, sebuah atraksi yang menampilkan monyet sebagai lakon. Sedangkan pawang tadi, sebagai sutradara sekaligus pemelihara sang monyet, sang tuan.

Sore itu, saya sedikit tersenyum dengan tingkah laku seekor monyet. Walaupun gerimis, dia tetap saja beraksi di depan para pengendara yang berhenti karena lampu merah menyala. Setelah melakukan beberapa aksi, monyet yang diikat rantai itu menadahkan tangannya kepada para pengendara motor.

Saat seorang pengendara memberikan selembar Rp 2.000, ia langsung berlari kecil, mendekati sang sutradara. Namun, sebelum memberikan lembaran uang kepada tuannya, monyet kelabu itu menaruh uang yang baru diterimanya ke dahinya. Bahkan, dengan lucunya kedua tangan memegang ujung secarik kertas itu, dan kemudian dijadikan alas sujud di lantai.

Uang itu akhirnya diambil sang tuan. Ia juga kembali menjulurkan rantai monyetnya, untuk kemudian beraksi kembali. Sebagai pelengkap, monyet itu diberikan motor-motoran dalam melakukan aksinya.

Melihat hal itu, saya jadi berpikir. Sepertinya, hidup ini tidak jauh berbeda laiknya aksi topeng monyet yang barusan terlihat. Kita butuh sesuatu untuk mendapatkan uang, sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Sang tuan tadi, laiknya atasan atau pemilik modal.

Dia berkuasa penuh, memerintahkan bawahannya untuk melakukan apa saja. Baik yang terkait dengan kerja, atau mungkin di luar konteks tersebut. Jika terjadi kesalahan, atasan tersebut enggan dipersalahkan. Lagi-lagi, anak buahnya yang menjadi kambing hitam.

Lain halnya, kalau ada sesuatu yang menguntungkan. Dengan otoritas yang dimilikinya, sang tuan bisa bebas membuat keputusan apapun itu. "Kalau tidak mau diperintah, ya wirausaha saja, enak bisa bebas melakukan apa saja sesuka kita," ujar seorang kawan. Benarkah demikian?

Belum sempat menjawab pertanyaan itu, fantasi abadi yang ada di otak kembali tersadar. Ternyata, sudah sampai di depan kamar kos tercinta. Hidup bagaikan aksi topeng monyet. Mau berlari, belum berdaya. Seorang kawan, beberapa menit lalu memberitahu. "Kita mungkin sebagai pejuang, tapi harus sadar. Perjuangan ini dimanfaatkan sebuah korporasi," ujar seorang kawan, yang mengaku bekas aktivis ini.

19 Januari 2010

Sebagian Tubuh Isah Lumpuh Setelah Dioperasi


DI ruang tamu sebuah rumah bambu, dengan beralaskan kasur tipis, tergeletak seorang perempuan paruh baya. Namanya Isah, yang berusia 50 tahun. Sekitar satu bulan ini, perempuan yang memiliki satu anak ini melewati hari-harinya dengan berbaring, dan berbaring.

Rambutnya masih terlihat pendek. Di sisi kanan kepalanya, tepatnya di depan telinga, masih ada bekas luka hitam. Isah baru saja dioperasi sekitar Desember tahun lalu. Warga RT 01/05 Kampung Jalupang Kidul, Desa Girimukti, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat ini mengaku, setiap malam susah tidur karena bagian kiri tubuhnya sakit.

"Tangan dan kaki kiri saya tidak bisa digerakkan. Kalau malam terasa sakit. Mata kanan saya juga tidak bisa untuk melihat," ujarnya sembari mengangkat tangan kirinya menggunakan tangan kanannya. Tangan kirinya terlihat lemas. Demikian juga kaki kirinya. Mata kanannya masih terbuka, tetapi Isah mengaku hanya bisa melihat dengan mata kirinya.

Ibu dari seorang putera ini mengatakan, keadaan ini harus diterimanya setelah dioperasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Sebelumnya, Isah sudah memeriksakan mata kanannya yang tidak bisa melihat dengan baik di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Hasil diagnosa di rumah sakit itu menyebutkan, Isah memiliki tumor yang terdapat di belakang mata kanan, sehingga harus dilakukan operasi.

Namun, ia baru bisa melakukan operasi pada Desember 2009 di RSHS, setelah terdaftar sebagai peseta Jamkesmas. Ia sempat dirawat selama 25 hari pasca operasi. "Kata dokter, biasanya memang lumpuh seperti ini kalau sudah dilakukan operasi. Kaki dan tangan kiri saya masih bisa sembuh, tapi lama. Sedangkan mata, katanya sudah tidak bisa normal kembali," ujarnya lirih.

Sampai saat ini, Isah masih terus memeriksakan kelumpuhannya secara rutin. Untuk melakukan pemeriksaan, Isah harus berangkat pukul 02.00, dan bisa sampai ke rumahnya kembali pada malam hari. Hal ini dilakukannya setiap pekan. Untuk bisa memeriksakan kondisinya, Isah harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Setiap harinya, ia tinggal dan dirawat oleh ibunya, Mak Acih. Sesekali dibantu beberapa kerabat dekatnya. Isah tinggal di sebuah rumah kecil yang terbuat dari bambu. Untuk menuju ke kampung tersebut, paling tidak dibutuhkan waktu selama 2-3 jam, jika melalui Saguling. Rumahnya pun terletak di pinggir kampung. Harus melewati jalan setapak dan berlumpur untuk menuju kediaman Isah.

Menurut Direktur Utama RSHS, Rizal Chaedir saat dihubungi, kemungkinan kaki dan tangan kiri tidak bisa digerakkan akibat stroke. "Tapi kalau yang dioperasi di mata, dan yang terkena di bawah, sangat jauh kemungkinan yang disebabkan kesalahan operasi," ujarnya. Menurutnya, pusat pergerakan ada di otak dan tulang belakang.

Namun, Rizal mengatakan, bisa saja kemungkinan terjadi dalam sebuah operasi. Ia menyebut istilah tersebut dengan kejadian yang tidak diharapkan. Mengenai kemungkinan adanya kesalahan dokter, Rizal harus membuktikannya terlebih dahulu.

"Tomat busuk itu kan harus dipisahkan dengan tomat yang lain. Tapi, harus dibuktikan terlebih dahulu. Dokter bukan yang menyembuhkan, tapi ada Tuhan. Kita hanya membantu dalam masalah pengobatan," tegasnya.



Leni Ditolak Berobat Menggunakan Gakin


LENI Nurhasanah, hanya duduk terdiam di ruang tamu di rumahnya, di RT 01/04, Kampung Cihurang, Kelurahan Singajaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Senin (18/1) siang. Bocah berusia 10 tahun ini baru saja pulang dari sekolahnya, di SD Lamping Sari, yang terletak sekitar 10 menit dengan berjalan kaki dari rumahnya.

Anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Eman Sulaeman (54) dan Eneng (56) ini, memiliki anus tidak di tempat yang seharusnya. Kelainan ini sudah dirasakannya sejak dilahirkan. Baru dua tahun ini, Leni membuang air besar melalui saluran yang dibuat di perut sebelah kirinya, hasil operasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

"Sejak 2008, kita baru bisa mengantarnya untuk operasi di RSHS, karena ada program Keluarga Miskin Daerah (Gakinda)," jelas Asep Pera, kakak tertua Leni. Pria berusia 27 tahun ini menambahkan, keluarganya tidak terdaftar dalam Jamkesmas, karena kuotanya sudah habis.

Ia menceritakan, sebelum dibuat saluran pembuangan di perut, Leni selalu membuang air besar melalui lubang kecil yang letaknya dekat dengan alat kelaminnya. Setiap membuang air besar melalui lubang itu, Leni selalu menangis, menahan kesakitan karena hanya bisa mengeluarkan kotoran sebesar sebatang lidi.

Lubang pembuangan sekarang, hanya ditutupi plastik transparan, yang ditempel menggunakan double tape. Dalam satu hari, Leni bisa membuang air besar sebanyak empat kali. Setelah itu, saluran pembuangan itu dibersihkan dengan kapas dan air hangat, demi menghindari terjadinya infeksi.

Asep mengaku, pernah membawa saat adiknya itu masih berusia 8 bulan ke RSHS. Namun, saat sedang mengantre, operasi itu tidak jadi dilakukan. "Alasan susternya ketika itu, dokternya sedang seminar. Padahal Leni menangis terus. Justru kita disuruh ke RS Cibabat di Cimahi," ujarnya. Ia pun mengantar Leni menuju RS Cibabat dengan ayahnya. Karena tidak memiliki alat untuk melakukan operasi, RS Cibabat pun memberikan rujukan kepada Asep untuk membawa adiknya ke RSHS.

Atas pengalaman itulah, Asep kemudian enggan membawa Leni ke rumah sakit lagi. "Sebagai orang kecil, sakit sekali diperlakukan seperti itu," kesalnya. Setelah mendengar adanya Gakinda, barulah Asep membawa Leni ke RSHS untuk melakukan operasi. Walaupun banyak persyaratan dan fotokopi berkas yang banyak, Asep tetap bertekad menyembuhkan adiknya.

Setelah melakukan operasi, sekitar dua pekan lalu Leni dibawa ke RSHS untuk rawat jalan. Namun, karena Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menunggak biaya pengobatan kepada RSHS, Asep tidak bisa mendapatkan program Gakinda. Sekali pemeriksaan, ia harus membayar sekitar Rp 600 ribu karena membayar seperti masyarakat umum.

"Baru sekali, karena tidak ada uang untuk terus melakukan rawat jalan," jelas Asep yang memiliki pendapatan sebesar Rp 60 ribu per bulannya, dari hasil menjahit. Asep mengatakan, Leni ditolak untuk membayar menggunakan Gakin, karena tunggakan yang belum terbayarkan.

Setelah dua tahun, Leni disarankan untuk dioperasi kembali, yaitu untuk membuat lubang anus di tempat yang semestinya. Namun, lagi-lagi berbagai kendala ditemui Asep. Selain kamar inap yang penuh, ia juga harus membayar sekitar Rp 20 juta untuk biaya operasi.

Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat, Ernawan, didampingi istri dan Kadinkes, langsung melihat keadaan Leni. Kadinkes Kabupaten Bandung Barat, Pupu Sari Rohayati mengatakan, Leni bukan ditolak, tetapi hanya butuh waktu. "Kita juga sedang melakukan pembicaraan untuk membuat MoU dengan RSHS. Tinggal menunggu Peraturan Gubernur," ujarnya.

Ia langsung menyuruh Asep mengantar Leni ke RSHS, dan tidak perlu membayar biaya operasi. Menurut Pupu, pembayaran bisa dilakukan menyusul. Pupu juga menyebutkan, saat ini ada sekitar 230 ribu Gakin di Kabupaten Bandung Barat. Namun, alokasi dari APBD tahun ini hanya sebesar Rp 1 miliar. "Idealnya, alokasinya sebanyak Rp 17 miliar, dengan tanggungan mencapai Rp 5 juta setiap pasien," lanjutnya.

Ernawan menambahkan, pihaknya akan melakukan verifikasi data terlebih dahulu. Hal ini untuk mengantisipasi masyarakat yang mampu, yang memanfaatkan program Jamkesmas dan Gakin

16 Januari 2010

Maaf, Saya Adalah Pembangkang

TOREHAN tinta, terus menghiasi kertas demi kertas notes. Mencatat setiap hal yang menarik dan penting dari pernyataan yang keluar dari mulut seseorang. Semakin lantang, semakin indah untuk disimak. Gerakan tangannya pun tidak luput dari pandangan. Tulisan yang tidak bisa dibaca sebagian besar orang, akhirnya tersusun dalam sebuah karya, yang menyuguhkan informasi, edukasi, dan solusi bagi pembaca.

Dari catatan cakar ayam itulah, fakta terungkap. Dari lembar demi lembar notes itulah, masyarakat bisa mendapatkan informasi yang ada di sekelilingnya. Bahkan, dari coretan tidak beraturan itu, banyak kasus terkuak. Namun, bisa saja pemutarbalikkan fakta terjadi. Semua, berawal dari torehan tinta sang penulis.

Dampak coretan itu, ternyata tidak hanya berdampak di lingkungan luar. Di dalam pun tidak kalah kerasnya. Melemahkan militansi pemikiran penulis coretan tadi. Akhirnya, penulis sadar, bahwa perjuangan itu dilakukan sendiri. Hanya kawan- kawan yang berprofesi yang sama, yang bisa berjuang. Dan, mengalami tekanan yang sama. Tidak semua bisa mengerti dan memahami apa yang dikerjakan penulis tadi. Sipenulis itu, tetap berusaha mempertahankan pendirian, bahwa inilah satu bentuk pilihan hidup. Sebuah keputusan yang memiliki konsekuensi cukup fatal.

Penulis coretan itu, berusaha menyuarakan aspirasi di bawah. Sekaligus menentang penguasa lalim. Tanpa sadar, apa yang dilawan dan diperjuangkannya itu, ada di hadapannya. Secara nyata! Untuk yang kesekian kalinya, penulis itu merekonstruksi lagi coretan-coretan yang pernah dibuatnya. Ternyata, tetap tidak ada kesalahan dalam orat-oretnya di tumpukan notes yang selama ini menjadi alat profesinya.

Untuk sementara, pemikiran dan karyanya mati. Tapi, penulis coretan itu, tetap melawan. Terus melawan. Dengan tegas, dia pernah berkata,"Maaf, saya adalah pembangkang bagi penguasa lalim seperti anda!"

26 Desember 2009

Bangunan Rumah Jerman itu Tinggal Puing


RUMAH Jerman. Itulah sebutan untuk bangunan yang terletak di Cukul, Pangalengan, Kabupaten Bandung Barat. Bangunan yang terletak tepat di puncak bukit itu, kini tinggal tersisa puing-puing, akibat goncangan gempa pada September lalu.

Hanya tersisa beberapa tiang penyangga yang terbuat dari besi, yang berdiri di antara puing-puing bangunan, dan satu bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan barang. Namun, bangunan itu pun terlihat rusak parah di bagian atap dan balkonnya.

Kemegahan bangunan yang dibangun sekitar 1930 ini, hanya tinggal kenangan. Saat Rumah Jerman masih berdiri, sudah terlihat jelas dari gerbang masuk Cukul Estate. Rumah dengan gaya arsitektur Eropa ini dikelilingi bukit. Selain itu, tepat di depannya yang menjorok ke bawah, terdapat sungai kecil dengan air yang jernih.

Rumah Jerman tidak hanya sering dikunjungi wisatawan, sebagai background foto. Beberapa kali rumah ini juga digunakan sebagai lokasi syuting film Indonesia, seperti film Sundelbolong dan Tentang Cinta. Letaknya pun tidak jauh dari rumah penduduk di sekitarnya, yang berada di lereng bukit.

Rumah Jerman pun memiliki posisi yang sangat strategis dan memiliki view yang indah. Berada di puncak bukit dengan suhu udara yang dingin. Dari bangunan ini, pengunjung bisa memandangi kebun teh yang berada hampir di setiap bukit yang ada di sekelilingnya.

Menurut penjaga Rumah Jerman, Erwin, rumah itu baru saja dirubuhkan sekitar dua pekan lalu. "Hampir semua bangunan rumah itu rusak parah karena gempa. Rencananya mau direnovasi awal Desember," ujarnya saat ditemui, Sabtu (28/11). Ia menambahkan, sudah dua tahun rumah itu dikelola PT Tatar Anyar Indonesia, setelah sebelumnya dikelola warga Inggris.

Pria berusia 40 tahun ini menceritakan, pada awalnya, Rumah Jerman dibangun warga Inggris yang juga memiliki lahan di sekeliling bukit. Lahan itu kemudian dijadikan kebun teh, dengan luas sekitar 3.000 hektare di sekitar Pangalengan. Disebut Rumah Jerman, karena rumah itu memiliki gaya arsitektur Jerman kuno.

"Rumah itu digunakan sebagai pertemuan dengan petani teh, atau tempat peristirahatan orang Inggris itu," lanjut Erwin, yang sudah 10 tahun menjaga dan merawat Rumah Jerman. Selama dirinya menjaga bangunan megah itu, setiap bulan pemiliknya selalu mampir dan membersihkan rumah tersebut.