
NYARIS di satu sudut yang ada di perempatan lampu merah di kota ini, ada seekor monyet dan seorang pawangnya. Mereka disebut topeng monyet, sebuah atraksi yang menampilkan monyet sebagai lakon. Sedangkan pawang tadi, sebagai sutradara sekaligus pemelihara sang monyet, sang tuan.
Sore itu, saya sedikit tersenyum dengan tingkah laku seekor monyet. Walaupun gerimis, dia tetap saja beraksi di depan para pengendara yang berhenti karena lampu merah menyala. Setelah melakukan beberapa aksi, monyet yang diikat rantai itu menadahkan tangannya kepada para pengendara motor.
Saat seorang pengendara memberikan selembar Rp 2.000, ia langsung berlari kecil, mendekati sang sutradara. Namun, sebelum memberikan lembaran uang kepada tuannya, monyet kelabu itu menaruh uang yang baru diterimanya ke dahinya. Bahkan, dengan lucunya kedua tangan memegang ujung secarik kertas itu, dan kemudian dijadikan alas sujud di lantai.
Uang itu akhirnya diambil sang tuan. Ia juga kembali menjulurkan rantai monyetnya, untuk kemudian beraksi kembali. Sebagai pelengkap, monyet itu diberikan motor-motoran dalam melakukan aksinya.
Melihat hal itu, saya jadi berpikir. Sepertinya, hidup ini tidak jauh berbeda laiknya aksi topeng monyet yang barusan terlihat. Kita butuh sesuatu untuk mendapatkan uang, sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Sang tuan tadi, laiknya atasan atau pemilik modal.
Dia berkuasa penuh, memerintahkan bawahannya untuk melakukan apa saja. Baik yang terkait dengan kerja, atau mungkin di luar konteks tersebut. Jika terjadi kesalahan, atasan tersebut enggan dipersalahkan. Lagi-lagi, anak buahnya yang menjadi kambing hitam.
Lain halnya, kalau ada sesuatu yang menguntungkan. Dengan otoritas yang dimilikinya, sang tuan bisa bebas membuat keputusan apapun itu. "Kalau tidak mau diperintah, ya wirausaha saja, enak bisa bebas melakukan apa saja sesuka kita," ujar seorang kawan. Benarkah demikian?
Belum sempat menjawab pertanyaan itu, fantasi abadi yang ada di otak kembali tersadar. Ternyata, sudah sampai di depan kamar kos tercinta. Hidup bagaikan aksi topeng monyet. Mau berlari, belum berdaya. Seorang kawan, beberapa menit lalu memberitahu. "Kita mungkin sebagai pejuang, tapi harus sadar. Perjuangan ini dimanfaatkan sebuah korporasi," ujar seorang kawan, yang mengaku bekas aktivis ini.


