BERSAMAMU, adalah sebuah kebahagiaan. Banyak hal yang baru yang menyenangkan, ketika bersamamu. Sentuhan, kecupan, dan perhatian itu belum pernah ada sebelumnya. Ketulusan cinta, membuat semuanya menjadi berharga dan berarti. Sungguh sangat berarti.
Sekilas dalam bayangan, semua tampak begitu indah dan nyata. Pergantian waktu membuat perubahan. Kebahagiaan itu menjadi tangisan tanpa henti untuk beberapa lama. Senyuman itu kemudian menjadi kecut dan suram.
Abstraksi keindahannya ternyata tidak sesuai faktanya. Beragam konsiderasi dan kepentingan bersembunyi di belakang. Menghantam segala rasa dan pikiran. Pun penuh intrik yang licik, dan membunuh karakter. Benar-benar kejam!
Tidak semua hal berawal dari keindahan, akan berakhir dengan indah pula. Kewaspadaan dan skeptis sirna ketika dihadapkan pada sebuah romantisme. Buaiannya begitu kuat dan menguasai logika. Kasihan. Hati nurani pun terkikis.
Bunda, tolonglah. Berikan udara untuk bernafas, demi melanjutkan hidup ini. Biarkan aku menikmatinya sebagai konsekuensi dari terciptanya sebuah hubungan. Hatiku telah mati, karena sudah kuberikan kepadanya. Namun, tidak untuk jasadku.
Tersingkirnya dirimu, tidak menghilangkan bayangmu. Air mata terus menangisi kenangan itu. Terasa manis, walaupun menyakitkan. Peristiwa itu, membuatku tersadar akan arti sebuah hidup. Pada akhirnya, aku harus memilih. Bahagia, atau terkurung dalam tangis. (percayalah, masih ada dirimu di hati ini... )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar