Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

04 Agustus 2010

Menampik Tuduhan Ghibah

"Kamu termasuk dalam orang yang sering melakukan ghibah," kata seorang kawan beberapa waktu lalu. Pernyataan itu akhirnya menjadi satu konsiderasi, dalam berkarya. Namun, bukan untuk menghentikan langkah.

Dari uraian di situs Wikipedia, Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan jasmani, agama, kekayaan, hati, akhlak, dan bentuk lahiriyahnya.

Caranya pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.

Masih dalam situs yang sama, lebih jauh diungkapkan bahwa banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah ia adalah sesuatu yang keji dan kotor.

Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sabda itu berbunyi, "Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya". (As-Silsilah As-Shahihah).

Uraian itu tentu saja mengagetkan. Pernyataan kawan tadi, tidak membuat sebuah perdebatan panjang. Dan saya menghindari hal itu kalau hanya sekadar menjadi debat kusir.

Setiap manusia, berhak untuk mendapatkan informasi yang diinginkannya. Tentu sepanjang informasi itu menyangkut kepentingan publik yang luas. Termasuk kebijakan, dan juga permasalahan yang kompleks dalam ranah publik.

Keburukan individu, tidak selalu mencerminkan wajah institusi secara keseluruhan. Kecuali kalau akhirnya keburukan itu dilakukan kolektif dan berkelanjutan.

Media berusaha menjadi pengawas bagi jalannya kebijakan publik, terutama sekali yang ada di kalangan birokrasi pemerintahan. Kebijakan apapun itu.

Keadilan memang tidak bisa didapatkan seutuhnya. Namun, paling tidak dari informasi yang diperoleh sebagai input, bisa menjadi dasar output dari adanya kebijakan.

Pembenaran memang tidak bisa diungkapkan seutuhnya di sini. Butuh uraian panjang dan terkesan monolog. Akhirnya, saya mencoba bertanya kepada seorang ustaz UIN Jakarta. "Jurnalis adalah profesi yang mulia," katanya.

Tidak ada komentar: