MENYAMBUT HUT Republik Indonesia ke-65, kita mendapat kado istimewa dari negara tetangga, Malaysia. Apalagi kalau bukan insiden pengejaran dan juga penangkapan petugas Satuan Kerja Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Karimun, pada Jumat (13/8).
Bahkan, katanya Pasukan Diraja Malaysia sempat mengeluarkan dua kali tembakan. "Kalau peluru suar pasti akan menimbulkan efek terang benderang di langit. Tapi pada saat kejadian, setelah dua kali suara tembakan dari polisi Malaysia, saya tidak melihat langit terang," kata petugas Satuan Kerja Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Karimun, Hermanto, yang menjadi saksi mata saat kejadian.
Hermanto membantah penggunaan peluru suar yang digunakan Malaysia. Insiden itu terjadi saat petugas PSDKP menangkap lima kapal Malaysia, yang mencuri ikan di perairan Pulau Bintan. Polisi Diraja Malaysia memaksa agar nelayan itu dibebaskan.
Akibat insinden itu, tiga petugas Indonesia masih ditahan di Pangerang, Johor, Malaysia. Kecaman pun muncul dari berbagai kalangan. Khususnya bagi LSM dan beberapa elemen mahasiswa yang akan mengadakan aksi turun ke jalan.
Padahal, insiden itu terjadi di perairan yang masuk dalam teritori Indonesia. Dan, bukan kali ini saja terjadi. Paling tidak sudah ada beberapa insiden dengan Malaysia dalam beberapa tahun. Pada akhirnya, berakhir di meja perundingan tanpa adanya keputusan yang jelas dan tegas.
Sebagai warga negara Indonesia, melihat fakta tersebut sangat miris dan memprihatinkan. Dengan berbagai kelebihan yang kita miliki. Baik dari jumlah penduduk, dan kuantitas personil militer kita. Namun, alat utama sistem persenjataan (Alutsista) kita harus diakui masih minim.
Berbicara perang, mungkin tidak relevan lagi di masa sekarang. Tapi, kedaulatan negara perlu mendapat legitimasi. Secara de facto dan de jure. Simbol militer perlu mendapat tempat dalam konteks menjaga kedaulatan negara.
Bisa dimaklumi kalau insiden itu baru terjadi satu kali. Kalau sudah terjadi berulang, pada akhirnya harus menjadi satu kebijakan tegas. Bukan sekadar berwacana dan sebatas mengecam. Usia Indonesia bisa dibilang sedang lucu-lucunya dibandingkan negara maju pada umumnya.
Namun, tentu saja kekuatan militer kita perlu ditingkatkan. Semua bergantung pada seorang pemimpin. Indonesia sudah memiliki eksistensi yang cukup dengan mengirimkan pasukan perdamaian di beberapa wilayah konflik. Jangan lupa, batas-batas negara juga sangat penting untuk dijaga dari arogansi negara lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar