SEORANG pria mengenakan pakaian safari abu-abu, duduk sendiri di bawah tenda sebuah rumah makan. Dia tampak menikmati rokok putihnya. Sesekali kepalanya bergerak menengok keadaan di sekelilingnya. Begitu melihatku menghampirinya, dia mengeluarkan senyum.
Panjang rambutnya mencapai bahu, yang disisir halus ke belakang. Aku jadi teringat film-film mafia mandarin. "Bagaimana kabarnya," tanya seorang anggota DPRD ini. Dia memang anggota legislatif periode 2009 hingga 2014.
Namun, dari sekilas tampangnya, dia tidak terlihat seperti wakil rakyat yang terhormat. Dia pun tidak mengenakan kaus kaki. Sepatu yang dikenakannya adalah model semi sepatu sandal. Kancing bajunya sedikit terbuka, memperlihatkan sekilas dadanya.
Kami pun berbincang pada siang itu. Sekadar berdiskusi. Dari latar belakang dirinya mencalonkan diri sebagai anggota dewan, hingga beberapa proyek pemerintah yang ditanganinya. Maklum, selain duduk di kursi dewan, pria yang masih terlihat begitu muda ini juga memiliki sebuah perusahaan kontraktor.
"Kecil-kecilan saja kok. Yang penting ada penghasilan lain, tidak semata-mata dari gaji dewan. Mana cukup kalau hanya mengandalkan gaji," katanya diikuti tawa. Beberapa lama kami ngobrol, dia terus membakar rokok setiap kali yang diisapnya habis. Tanpa henti.
Perbincangan santai itu memakan waktu sekitar dua jam. Dia wakil rakyat dari sebuah partai politik yang kecil. Namun, dia mampu meraup suara hingga 4.ooo di daerah pemilihannya. Jumlah yang fantastis untuk pemula. Apalagi dia belum memiliki pengalaman politik yang cukup memadai.
"Ketika saya ditunjuk partai untuk mencalonkan, saya sebenarnya tidak mau. Tapi, akhirnya menjadi gengsi tersendiri," lanjutnya. Dana yang dihabiskan untuk melakukan kampanye mencapai Rp 500 juta. Uang itu berasal dari koceknya sendiri. Tiga unit mobil yang dimilikinya pun harus dilego.
Harga yang lumayan fantastis demi mendapatkan sebuah gengsi. Akhirnya, dia berhasil mendapatkan satu kursi untuk partainya, yang didudukinya kini. Gengsi pun berhasil diraihnya. Tidak sedikit calon yang berakhir dengan kondisi kejiwaan yang labil atau justru gila karena tidak terpilih!
Diskusi itu memang tidak berbobot sama sekali. Namun, ternyata ada beberapa poin yang bisa diambil kesimpulan. Apapun kesimpulannya, ternyata proses untuk menjadi seorang legislatif tidak lah mudah. Selain itu butuh biaya yang lumayan besar. Tertarik untuk mencoba? Mulailah dari sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar