AKHIRNYA, kedamaian aku temukan. Di sini. Di istana, tempat berkumpul bersama keluarga, dan sahabat. Suasana di mana tidak aku rasakan di tempat lain. Aku benar-benar bisa bernafas dengan lega, walaupun hanya beberapa hari. Namun, damai ini begitu nyata.
Ternyata, aku memang membutuhkannya. Sebagai tempat bersandar, berlabuh, untuk kemudian menenangkan hati dan pikiran. Belum ada seorang pun yang mampu memberikannya. Kecuali keluarga, dan sahabat. Begitu berharga. Di tempat ini, aku membuka topeng. Aku telanjang. Dan, inilah sebenarnya roh yang menghinggap di jasadku.
Ketika aku bercengkerama dengan keluarga dan para sahabat, seolah aku berada sangat dekat dengan Tuhanku. Sungguh tidak berlebihan! Tatanan kehidupan ini yang aku harapkan. Bukan sekadar hanya aku nikmati beberapa hari. Aku ingin terus bersenggama dengan kedamaian ini, sampai pada akhirnya detak jantung terhenti.
Biarkan aku menangisi. Biarkan aku mengeluarkan segala sesak dan penyesalan. Dan, biarkan pula aku menikmati kedamaian ini dengan segala keindahannya. Sekali lagi, aku mau kedamaian ini selamanya.
Mata ini enggan menutup, untuk melewatkan setiap detik damai yang terasa. Telinga ini terus mendengar kata indah. Bukan tangisan, dan tekanan. Bukan pula rintihan, dan godaan. Tuhan, aku memohon kepadaMu. Berikanlah aku kedamaian abadi ini. Di dunia dan tempat pijak terakhirku nanti. Aku muak menjadi seorang munafik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar