Nasionalisme, dari berbagai perspektif ilmuwan sosial, menuju pemahaman sentral. Sebut saja seperti Max Weber yang nyaris frustasi ketika harus memberikan penjelasan sosiologis tentang fenomena nasionalis, dua bapak ilmu sosial-Karl Marx dan Emile Durkheim yang tidak menaruh perhatian serius pada isu nasionalisme walau tentu saja pemikiran mereka banyak mengilhami penjelasan tentang fenomena nasionalisme, Benedict Anderson, dan banyak pemikir-pemikir lain tentang konsep nasionalisme.
Dari berbagai teori di atas, Indonesia menjadi satu negara sebagai model nasionalisme yang kompleks dan ambivalen. Kecenderungan bangsa ini, adalah model nasionalisme etnis yang dibangun Johann Gottfried von Herder dengan konsep Volk(rakyat). Asumsinya, kebhinekaan dan luasnya bangsa ini.
Nasionalisme Indonesia masih sebatas simbol bendera merah putih, belum adanya "kesepakatan" berdasarkan rasa itu sendiri.
Menjelang peringatan hari kemerdekaan, banyak bermunculan artikel dan berbagai wacana yang muncul. Namun, sayang hanya sebagai wacana, tanpa implementasi nyata. Mendekati hari H, lagu kebangsaan akan terdengar di seantero Sabang-Merauke. Namun, ibarat musim buah, yang setelahnya, hanya dilupakan.
Pentingnya rasa, kini seakan terbuang. Simbolisasi yang masih efektif berimplikasi pada rasa, nyaris luntur. Upacara bendera misalnya, dianggap sesat, dianggap buang-buang waktu. Secara manfaat, ia lebih efektif membenamkan sebuah "doktrin" bagi terciptanya rasa.
Kini, lagu-lagu kebangsaan dianggap katrok, kita lebih senang mendengar lagu yang bisa menggeleng-gelengkan kepala seraya berdansa bersama gadis seksi.
Hmm...
1 komentar:
rasa-rasanya keindonesiaan itu belum selesai dan perlu ada kesepakatan bersama.
merdeka, bagi saya adalah sesuatu yang luas, dan rasanya hingga saat inipun bangsa ini belum merdeka...
nasionalisme pun rasanya makin tergerus dengan kapitalisme dan liberalisme di dunia yang makin pongah ini.
Posting Komentar