Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

02 Juli 2008

"Doktrinasi"

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), doktrin berarti ajaran tentang suatu aliran politik, keagamaan dan bisa juga diartikan pendirian segolongan ahli ilmu pengetahuan, keagamaan, ketatanegaraan secara bersistem, khususnya di penyusunan kebijakan negara.

Doktrinasi sendiri tidak tercantum dalam KBBI. Namun, dalam pengertian praksisnya, dapat dipahami sebagai pola doktrin yang dilakukan. Doktrin dalam pengertian umum, berkonotasi negatif. Konotasinya sama dengan brain storming, suatu usaha pencucian otak. Sadis!
Doktrin dapat dilakukan secara langsung maupun tidak. Secara langsung, dapat diartikan bahwa, doktrin dilakukan secara intensif melalui tatap muka.
Namun, doktrinasi yang lebih berbahaya, melalui tulisan. Tulisan begitu efektif dan efisien. Bagaimana tidak, misalnya, Karl Marx, tanpa bertatap muka dengan kaum proletar, mampu menuntun kaum Marxis bagaimana berpola pikir. Sama halnya dengan pemuja bagi liberalisasi yang banyak ditulis Francis Fukuyama, dan pendahulunya, penggagas kapitalisasi, David Richardo.
Tan Malaka, yang tidak pernah dikenal sebagai pahlawan revolusi, sebenarnya, menjadi pemilik konsep dari berdirinya ASEAN (baca buku Materialisme, Dialektika, dan Logika).
Kini, tanpa disadari, setiap individu memiliki doktrinasi yang dilakukan terhadap orang lain. Baik melalui tulisan dan langsung.
Kehadiran blog di dunia maya, menjadi satu media bagi penyebaran berbagai pemikiran dan mahzab. Menjadi subyektif, ketika bercerita dari kisah, atau fiksi atau apapun jenis tulisan itu dari penulis.
Tulisan yang mampu dipertanggungjawabkan adalah tulisan yang mampu dibuktikan secara empiris, kata para pemuja teoritis. Yah, menjadi acuan bagi ilmuwan sosial kini, dengan mencoba berbagai penelitian untuk mendapatkan predikat science.
Empiris, mencoba menghindari subyektifitas, yaitu mampu dibuktikan oleh ilmuwan lain. Tujuannya, tidak terjadi pembodohan massal, yang sering terjadi dari tulisan-tulisan yang sebenarnya, penulisnya pun kurang memahaminya...

Tidak ada komentar: