Mengacu pada pembelajaran pengalaman, berimplikasi terbentuknya sikap growth pada satu pribadi. Teringat satu leadership management theory yang sering dikatakan seorang kawan. “Keberhasilan seorang pemimpin ketika dia mampu “menguasai” kalangan grassroad,” jelasnya pada suatu malam.
Pemikiran-pemikirannya, sadar atau tidak, menjadi satu inspirasi mengenai persoalan krisis kepercayaan pada seorang pemimpin. Pada satu lingkungan, pemimpin mampu meng-create kepercayaan itu. Namun, pertentangan terkadang terjadi pada lingkungan lain. Key word membentuk kepercayaan, satu yang krusial adalah positive thinking.
“Semua orang bisa berubah, dari yang paling jahat sekalipun,” itulah satu implementasi positive thinking yang diucapkan seorang kawan. Pemahaman ini menjadi mutlak dalam pembentukan pemimpin yang berkarakter wise man dengan segala output kebijakannya. Bahkan, tidak jarang seorang pemimpin menjadi tameng atas kebijakan yang diyakininya benar bagi kemashlatan publik. Tameng dari serangan-serangan internal atas dirinya.
Semua tidak bebas nilai. “Semua perbuatan manusia itu memiliki motif, kecuali orang gila,” kata seorang kawan pada satu sore. Begitupun, serangan-serangan yang ditujukan pada seorang pemimpin. Namun, serangan itu memiliki spillover (meminjam istilah dari seorang kawan kalangan akademisi) bagi pemimpin dan penyerang, bahkan publik, sebagai dampak dari “konflik” antar keduanya.
Motif itu bukan esensi, tetapi tidak juga mengesampingkannya. Ia hanya patut menjadi konsiderasi bagi perkembangan langkah yang akan diputuskan selanjutnya. Ketika itulah konsep strategi harus segera muncul.
Kesimpulannya, pengalaman akan menjadi pemimpin yang baik ketika mampu membentuk satu elemen penting, positive thinking, menjadi dasar kerangka pemikiran di bawahnya. Semua bisa terjadi secara deduksi atau induksi, tergantung pada kesigapan pemimpin memberikan solusi dalam satu permasalahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar