Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

30 April 2009

Retorika dan Parodi Politik

Sebelumnya, selamat buat para caleg yang mendapat suara banyak dalam rekapitulasi suara hasil pemilihan legislatif lalu. Paling tidak, mereka sudah membayangkan, bagaimana nikmatnya bertugas menjadi anggota dewan. Tinggal menunggu pelantikannya pada Agustus nanti.

Namun, saat ini masyarakat harus menyaksikan konflik para elit jelang Pilpres. Telinga kita begitu familiar dengan kata koalisi dan oposisi yang dikatakan para elit. Saya pun jengah. Distorsi secara audio visual, yang sebenarnya tidak terlalu mendidik langsung masuk ke dalam otak.

Pernyataan-pernyataan para elite begitu munafik. Masyarakat intelektual, akhirnya bisa mengambil kesimpulan dini tentang siapa tokoh-tokoh politik itu. Saya pun sempat kagum pada seorang tokoh. Namun, kekaguman itu menjadi lunak saat Pileg usai dilaksanakan.

Kekaguman itu sirna, melihat manuver-manuver politiknya, tidaklah secantik konsep yang ditawarkan pada saat kampanye. Tokoh itu akhirnya lebur dalam idealisme pragmatis yang kehilangan arah. Dia terjebak dalam orientasi kekuasaan menurut definisinya.

Hm..Siapapun orangnya, dia akan masuk trap lingkaran setan. Kita sebut setan, karena banyak kepentingan, ambisi, dan persaingan secara tidak sehat di sana.

“Kita harus realis kalau dalam berpolitik. Tujuan politik adalah kekuasaan,” kata seorang tokoh parpol dalam acara diskusi di televisi beberapa waktu lalu. Peserta diskusi yang umumnya tokoh-tokoh penting dari berbagai parpol yang hadir, tidak menyanggah teori itu. Artinya, terjadi kesepakatan di sana.

Secara tidak langsung, konstelasi politik di negara ini mengarah pragmatis, untuk meraih kekuasaan.

Oleh karena itu, mereka rela mengeluarkan begitu besar uang untuk berkampanye. Dengan cara apa pun, asal bisa meraih kekuasaan. Yang menjadi pertanyaan mendasar, jika mereka bisa mendapatkan kekuasaan itu, baik legitimate or not, apa yang akan dilakukan?

Kalau kita benar-benar perduli, lihatlah tokoh-tokoh yang bakal mencalonkan diri menjadi capres. Di sini tentu mengesampingkan like and dislike. Namun, lebih pada kompetensi dan kredibilitas tokoh yang akan memimpin bangsa ini. Saya yakin, sebagai aktor intelektual, anda bisa memilihnya secara objektif, walau tidak seratus persen objektif.

Tidak ada komentar: