BERBUNYI tanpa makna. Alias hampa. Dia hanya terdengar sekilas. Namun, menyakitkan. Menembus pilar pondasi hati dan pemikiran. Suaranya nyaring dan menggelegar. Lantang.
Dia hanya sekadar berbicara dengan sistematis. Seolah bisa diterima akal sehat. Ternyata, dia bukan apa-apa. Dia hanya bisa meninggikan nada suara. Tapi, tidak ada makna. Sekali lagi, tanpa makna.
Suara-suara itu terus terdengar setiap hari. Tersaji dengan kemasan cantik. Dari pagi, hingga malam menjelang tidur. Tidak sedikit, yang akhirnya terbuai, terpana, dan kemudian larut di dalam desingan suara kosong.
Mereka tidak sadar, terdistorsi dari situasi. Kontaminasi pemikiran, juga merasuki kepala mereka.
Maaf. Aku hanya bisa duduk, dan menonton mereka. Sesekali aku tersenyum. Namun, tidak jarang, aku harus mengerutkan dahi melihat kelakuan mereka. Kadang pun, aku banyak bertanya kepada mereka. Tapi, hanya pernyataan kosong.
Aku pun menghela napas. Tanpa bisa melakukan apapun. Hanya sekadar menyajikan apa yang aku lihat, aku dengar, dan aku rasakan. Tidak jarang, mereka mengancam. Tapi, aku tidak akan bungkam.
Pada satu titik, aku pun menggelengkan kepala. Mencoba menyadarkan kembali, saat otak ini mulai terkontaminasi. Namun, sesaat aku pun menggabungkan diri ke dalam lingkaran itu. Terbawa, hingga tidak berujung. Ternyata, aku juga masih lemah.
Semua keindahan itu, telah hilang seketika. Berubah menjadi stigma, begitu dalam. Benar-benar, tidak ada yang abadi. Sumpah serapah itu akhirnya spontan terlontarkan. Kini, akhirnya aku menjadi gila dan tidak dapat dikontrol. Maafkan aku, sobat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar