Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

16 Juni 2010

Garis Skeptis

SKEPTIS masih bersarang di otak ini. Tidak disangka, dia mampu menjalar dan menembus ke dalam hati. Perlahan, hati pun terkontaminasi. Darahnya tidak lagi murni kemerahan. Namun, sudah bercampur hitam dan bergumpal. Menjijikkan!

Skeptis itu juga membentuk garis, sebagai satu perjalanan. Garis itu akan berhenti, ketika otak tidak lagi mampu berpikir, dan juga ketika jantung terdiam selamanya. Tapi perjalanan garis itu semakin melaju dan tidak terkendali.

Goresannya pun hitam pekat, mengubah setiap latar putih yang dilaluinya. Garis itu pun, sesekali selama beberapa saat menghentikan torehannya di beberapa titik. Namun, hanya sekadar menyentuhnya untuk kemudian ditinggalkan. Kasihan titik-titik itu. Jumlahnya juga belum terdeteksi hingga kini.

Garis itu semakin melaju dan menggila. Arahnya tidak karuan dan tanpa tujuan. Melaju dan terus melaju. Pembentukan skeptis berawal dari ditorehkannya garis tersebut. Tidak ada seorang pun yang tahu, kapan garis itu akan berujung.

Berbagai konsiderasi belum mampu menghadang perjalanan garis itu, untuk membelokkan arah dan mengubah warnanya. Padahal, beberapa titik putih sudah mempersembahkan dirinya. Sayang, garis itu justru menghempaskan titik-titik itu.

Pada satu perjalanan, garis itu menguras air matanya. Sebenarnya, dia tidak ingin mencampakkan titik yang pernah dilaluinya. Namun, dia sendiri tidak tahu mengapa melakukannya. Mungkin kesombongan, keangkuhan, dan rasa superior telah membuatnya kalap. Tidak lagi memikirkan dampaknya.

Sampai hari ini, garis itu masih melaju dengan air mata. Kontemplasi yang dilakukannya belum mencapai kesempurnaan. Pada akhirnya, dia masih saja membenturkan dirinya dalam dinding tebal. Dia tahu risikonya. Namun, garis itu masih saja maju dan melakukannya. Entah, sampai kapan.

Dia hanya bisa mengucap,"Maafkan saya."

Tidak ada komentar: