BEBERAPA saat setelah kejadian itu, aku menatap kosong. Setan dalam hari tertawa. Riang gembira. Entah berapa banyak jumlahnya. Mungkin tak terhitung. Pikiran dan hati benar-benar tidak sinkron. Keduanya bertarung hebat.
Ah. Tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi. Perbuatan-perbuatan itu sebenarnya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Tidak ada satu manusia pun yang menyangsikan kenikmatannya. Namun, terkadang mereka seolah mensucikan diri dengan pengakuan palsu.
Setan-setan yang ada dalam setiap aliran darah ini tak pernah henti-hentinya membujuk rayu. Bahkan, seringkali memaksa. Aku pun kerap terbuai dengan keindahannya. Janji manisnya. Dan, belaiannya yang halus nan lembut. Oh..
Walaupun setiap kali merasa menyesal, toh aku tetap melakukan hal yang sama. Apakah itu yang dinamakan sebuah penyesalan? Pertanyaan ini selalu saja menyita waktu berpikir. Di manakah tempat moral itu berada? Bagaimana dengan naluri?
Idealisme itu akhirnya tersingkirkan bagai sampah. Perkembangan pragmatis terlalu jauh dan liar. Aku tidak sanggup untuk membendungnya seorang diri. Benteng yang aku pertahankan, akhirnya jatuh. Aku pun belum sanggup melakukan rekonstruksi. Padahal, waktu terus berjalan.
Setan itu tidak hanya melukai pemikiran dan hati ini seorang. Banyak yang juga ikut terluka. Bahkan, lebih menyakitkan. Tangisan, cacian, dan harapan tidak mampu mengobati luka itu dalam sekejap. Perlu adanya sebuah kesempurnaan dalam berkontemplasi.
Aku percaya moral dalam konteks pemikiran. Namun, aku sama sekali tidak percaya tindakan yang bermoral. Jadi, urus saja moral anda masing-masing. Perkara ada yang terluka dan melukai, itu ada sebagai konsekuensi dari tidak adanya penggunaan moral.
Semua bebas memilih moralnya masing-masing. Silakan bicara dengan moral anda sendiri. Dan, jangan sekali-kali mengganggu moral yang ada dalam hati dan pikiran ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar