Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

12 Desember 2009

Senyuman Khas yang Tulus


KERETA Lodaya dari Bandung, perlahan mengurangi kecepatannya. Beberapa menit kemudian, kereta itu menyandarkan gerbongnya di Stasiun Tugu, Jogja. Tepat pukul 04.15, pada Kamis (10/12). Suasana stasiun, masih senyap. Hanya ada beberapa kurir berseragam kuning, yang menawarkan tenaganya.

Sebagian penumpang, berlari kecil, menuju ke arah musala. "Terima kasih yo, Mas," ucap seorang perempuan, yang membawa barang berupa empat karton. Ia dan dua kawannya, kemudian berlalu menuju pintu keluar. Tidak lama berselang, kereta Lodaya juga ikut berlalu, menuju Stasiun Balapan, Solo.

Musala, mulai penuh didatangi para penumpang yang baru turun. Di depannya, berdiri beberapa orang, menawarkan jasa ojeknya. Suasana, kembali hening. Hanya terdengar lantunan ayat suci, dari orang yang mengimami salat subuh.

Jam klasik dengan ukuran besar, yang dipajang di atas ruang tunggu penumpang, menunjukkan pukul 04.45. Stasiun mulai ditinggalkan penumpang. Tetapi, dia belum juga datang menjemput. Seperti biasa, menunggu di stasiun, ditemani secangkir kopi dan tiga batang rokok putih.

Sinar matahari, mulai menyapa. Kereta demi kereta yang berasal dari arah barat, mulai berdatangan. Stasiun dipenuhi para penumpang. Di gerbang stasiun, sopir dan taksinya setia menawarkan jasa kepada setiap orang yang keluar dari stasiun. Tukang ojek dan tukang bejak, tidak mau kalah.

Akhirnya, dia berdiri tepat di tengah-tengah pintu gerbang stasiun. Lengkap dengan menggendong tas ranselnya. Wajahnya kemudian berbalik, dan tersenyum. Senyuman yang khas, dan tulus.

Pagi itu, menjadi pagi yang belum pernah ada sebelumnya. Pagi yang cerah, seperti senyuman yang juga mencerahkan hati. Jogja, saya datang... (bersambung)