Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

02 Desember 2009

Lamunan Sore yang Berarti

AKU hanya memandang segelas kopi, yang terletak di depan posisiku duduk. Terdiam. Jaket hitam yang sering kugunakan bekerja, masih menempel di badan ini. Perlahan, aku meraih segelas kopi dan menyeruputnya. Sebatang rokok putih kubakar dan kuisap.

Hari perlahan mulai gelap. Pintu kamar kos, yang baru beberapa hari kuhuni masih terbuka. Sinar matahari pun mulai menghilang. Aku belum beranjak dari kasur, menikmati segelas kopi dan sebatang rokok. Sengaja berlama-lama, melepas keletihan badan dan kepenatan otak setelah bekerja seharian.

Pikiranku kemudian mengingat sesuatu hal. Kesalahan yang sama, yang masih kulakukan sampai saat ini. Kesalahan terbesar. Bahkan, seberapa besar kebaikan yang selama ini telah kulakukan, tidak mampu membayar semua dosa-dosa termanis itu. Ah, semua sudah terjadi.

Hari ini, perasaan dan pikiran terasa kacau. Serasa ingin berontak, menuntut keadilan dari semua yang ada. Namun, aku sadar, aku terjebak. Akal sehatku mulai mati. Setan dalam hati tertawa. Ada apa ini? Aku merasa, satu tahun yang berlalu, bukan mencerminkan diriku yang sebenarnya. Kesombongan telah menjerumuskan sikap dan tindakan.

Nyatanya, dia telah datang dengan membawa perubahan dan harapan baru. Distorsi yang terlalu kuat, tidak mampu kutahan. Aku kembali mengalami perang batin, yang dua tahun lalu mulai menerpa. Kucoba mengingat kesalahan-kesalahan itu, untuk yang ke sekian kalinya. Munafik!

Uluran tangan itu masih saja kutampik. Padahal aku mengharapkannya dengan sangat. Tidak. Tidak. Bukan uluran tangan darinya.

Kumandang azan Magrib menyadarkan lamunanku. Tangan kananku pun terasa panas. Sebatang rokok yang kugenggam, ternyata sudah terbakar habis sampai gabusnya. Langsung saja kusudutkan ke dasar asbak. Konstelasi pemikiranku sudah mulai terkikis. Esok, masih saja datang dengan cahaya baru. Namun, aku tidak tahu, sampai kapan perjalanan berat ini bisa memunculkan kedamaian, yang saat ini hanya datang dalam fantasi abadiku.

Tidak ada komentar: