Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

26 Desember 2009

Bangunan Rumah Jerman itu Tinggal Puing


RUMAH Jerman. Itulah sebutan untuk bangunan yang terletak di Cukul, Pangalengan, Kabupaten Bandung Barat. Bangunan yang terletak tepat di puncak bukit itu, kini tinggal tersisa puing-puing, akibat goncangan gempa pada September lalu.

Hanya tersisa beberapa tiang penyangga yang terbuat dari besi, yang berdiri di antara puing-puing bangunan, dan satu bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan barang. Namun, bangunan itu pun terlihat rusak parah di bagian atap dan balkonnya.

Kemegahan bangunan yang dibangun sekitar 1930 ini, hanya tinggal kenangan. Saat Rumah Jerman masih berdiri, sudah terlihat jelas dari gerbang masuk Cukul Estate. Rumah dengan gaya arsitektur Eropa ini dikelilingi bukit. Selain itu, tepat di depannya yang menjorok ke bawah, terdapat sungai kecil dengan air yang jernih.

Rumah Jerman tidak hanya sering dikunjungi wisatawan, sebagai background foto. Beberapa kali rumah ini juga digunakan sebagai lokasi syuting film Indonesia, seperti film Sundelbolong dan Tentang Cinta. Letaknya pun tidak jauh dari rumah penduduk di sekitarnya, yang berada di lereng bukit.

Rumah Jerman pun memiliki posisi yang sangat strategis dan memiliki view yang indah. Berada di puncak bukit dengan suhu udara yang dingin. Dari bangunan ini, pengunjung bisa memandangi kebun teh yang berada hampir di setiap bukit yang ada di sekelilingnya.

Menurut penjaga Rumah Jerman, Erwin, rumah itu baru saja dirubuhkan sekitar dua pekan lalu. "Hampir semua bangunan rumah itu rusak parah karena gempa. Rencananya mau direnovasi awal Desember," ujarnya saat ditemui, Sabtu (28/11). Ia menambahkan, sudah dua tahun rumah itu dikelola PT Tatar Anyar Indonesia, setelah sebelumnya dikelola warga Inggris.

Pria berusia 40 tahun ini menceritakan, pada awalnya, Rumah Jerman dibangun warga Inggris yang juga memiliki lahan di sekeliling bukit. Lahan itu kemudian dijadikan kebun teh, dengan luas sekitar 3.000 hektare di sekitar Pangalengan. Disebut Rumah Jerman, karena rumah itu memiliki gaya arsitektur Jerman kuno.

"Rumah itu digunakan sebagai pertemuan dengan petani teh, atau tempat peristirahatan orang Inggris itu," lanjut Erwin, yang sudah 10 tahun menjaga dan merawat Rumah Jerman. Selama dirinya menjaga bangunan megah itu, setiap bulan pemiliknya selalu mampir dan membersihkan rumah tersebut.

Tidak ada komentar: