Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

18 Desember 2009

Ruang, Waktu, dan Materi

RUANG, waktu, dan materi. Tiga hal mendasar dalam filosofis hidup. Materi bisa berarti benda, atau diri kita sebagai manusia. Sedangkan ruang dan waktu, tidak perlu dijelaskan di sini. Tulisan ini mencoba membahas materi, bukan dalam pengertian benda, tetapi manusia.

Materi, membutuhkan waktu dan ruang untuk bergerak. Setiap detik, materi terus melakukan pergerakan dan perubahan. Terus dan terus, selama ruh masih menaungi dan mengontrol seluruh organ tubuh. Kalaupun manusia itu mati, dia tetap masih bisa melakukan aktivitasnya. Namun, pemahaman ini menjadi dogmatis dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, karena tidak ada satupun manusia yang bisa menceritakan kehidupannya setelah mati.

Dalam pengenalan ruang dan waktu, materi memiliki lima indera. Masing-masing memiliki fungsi strategis dan berkorelasi. Konsolidasi peran indera itu kemudian yang menciptakan beragam bentuk materi yang lain, yang ada di sekeliling manusia. Seperti ada meja, kursi, dan adanya manusia yang lain.

Namun, tidak semua manusia memaksimalkan potensi indera yang dimiliki. Satu implikasi dari pemanfaatan indera ini, yang kemudian membedakan posisi manusia terhadap manusia yang lain. Si A bisa menjadi orang yang sukses secara karir karena secara cepat memanfaatkan peluang yang ada. Sedangkan si B hanya melulu menjadi pesuruh, karena enggan memacu inderanya. Padahal, keduanya sama-sama memiliki potensi yang sama.

Analogi itu, adalah bentuk kompetisi dalam satu di antara tahapan proses hidup, atau dunia kerja. Sebagian besar manusia menyebutnya, inilah dunia nyata! 'Kekejaman' kompetisi, yang kemudian hidup itu menjadi keras. Tidak ada celah sedikitpun untuk bernafas. Pemikiran dan tindakan terus dipacu setiap waktu. Berdampak negatif pada keterasingan diri dan profit oriented.

Tidak ada lagi kata bersama. Tidak ada lagi kehidupan komunal yang heterogen. Namun, ini adalah sebuah kesepakatan yang tanpa disadari telah melibatkan manusia itu sendiri dalam membuat keputusan. Kalaupun sadar, maka dia akan terjebak dalam kejamnya kompetisi tadi. Ah, ini adalah retorika yang tidak akan berujung. Setelah terus terpacu, manusia membutuhkan sedikit ruang dan waktu.

Tidak ada komentar: