Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

22 Januari 2009

Ingatlah Kematian

Manusia pada hakikatnya pasti menuju kematian, tinggal menunggu gilirannya masing-masing. Bagi yang mempercayai hari Pembalasan, atau hari akhir, itulah di mana klimaks dari segala kehidupan duniawi.

Ada satu hal menarik yang ditunjukkan Bupati Gorontalo di ruangan kerjanya. Ia memajang sepotong kain kafan tepat di hadapannya. “Saya tunjukkan kain ini dengan maksud untuk mengingatkan bahwa kita semua pasti mati dan semua perbuatan diminta pertanggungjawaban,” ungkapnya pada satu televisi swasta beberapa waktu lalu.

Memang, tidak semua manusia percaya adanya kehidupan setelah kematian. Mereka, yang menyebut dirinya sebagai atheis mendasarkan hidup merupakan proses natural. Mereka inilah penganut rasionalisasi yang mengedepankan scientist sebagai maindset dan percaya semua yang ada di dunia dan langit berawal dari atom. Dan sesudah kematian, jasad melebur dan terjadi proses pewarisan karakter ke dalam makhluk hidup lainnya.

Montaigne mengatakan bahwa manusia itu gila karena tidak mampu menciptakan seekor tikus sekalipun, tetapi manusia mampu menciptakan berlusin Tuhan. Pernyataan ini menjadi kontradiktif. Tetapi, apa tujuan utama kita menciptakan fantasi tentang Yang Maha Kuasa itu? Plato mendefinisikan Yang Maha Baik sebagai tujuan manusia dalam meraih hidup yang baik.

Surga dan Neraka menjadi fantasi abadi bagi yang percaya adanya Hari Pembalasan. Gambaran kenikmatan dan kesengsaraan diantaranya memacu manusia berlomba untuk mendapatkan Surga setelah kematiannya.

Terlepas dari agama apa pun, semuanya mengajar pada perbuatan kebaikan. Legitimasi atas nama agama terkadang membikin manusia menjadi beringas. Bahkan seiring tren politik berbasiskan isu agama, menjadikannya satu legitimasi penting untuk meraih kekuasaan.

Ingatlah kematian, niscaya manusia akan berbuat yang lebih baik dari apa yang telah dilakukannya. Yang membedakan manusia dengan lainnya hanya terletak pada iman dan takwa, menjadi satu motivasi manusia untuk menutupi kekurangan fisik manusia itu sendiri dari manusia lainnya.

Sebelum melakukan sesuatu, khususnya yang bertentangan dengan moral dan etika, sebaiknya ingatlah kematian terlebih dahulu. Ingat kematian, sangat penting sebagai esensi mencegah tindakan amoral, baik terhadap diri kita sendiri, maupun terhadap manusia lain.

1 komentar:

thya mengatakan...

WEW, HEBAT, coba semua pejabat naro kaen kafan di depan mukanya itu.. hahaha