Seorang lelaki, tampak duduk termenung, di depan kamarnya. Memandang penampakan sang bulan, yang selama ini dilupakannya. Lelaki itu menghisap sebatang rokok putihnya, sesekali minum kopi kental kegemarannya.
“Alangkah indah bulan purnama itu, walaupun sudah terjamah manusia,” gumam lelaki dalam hati.
Nyaris setahun, lelaki itu meninggalkan keindahan rembulan. Ia terjerumus dalam keangkuhan kilaunya materi, profesi, dan perempuan. Kini, ia kembali ke tempat di mana ia menikmati sentuhan rembulan. Namun, merana karena ketiga hal yang dikejarnya, mencampakkannya.
Rembulan, tetap menerimanya, apa adanya, dalam keadaan apapun! Sebuah pepatah mengatakan, habis manis sepah dibuang. Kasian. Namun, sang motivator, Mario Teguh dalam acaranya di Metro TV mengatakan, jadilah manusia yang manisnya tidak akan pernah habis. Tentu saja, agar tidak dibuang begitu saja. Pepatah itu sepenuhnya benar, menggambarkan manusia yang tidak bebas dari kepentingannya.
Jadilah seperti lilin, walau meleleh, tetapi ia tetap memberikan penerangan di sekelilingnya. Begitu besarkah yang harus dikorbankan, untuk satu pengakuan eksistensi? Namun, ia tidak akan berguna jika tidak ada kegelapan di sekelilingnya dan akan menjadi lilin tanpa mampu memberikan manfaat.
Seorang kawan pernah berkata, janganlah terlalu mengorbankan diri untuk menolong kesusahan orang lain. Kontra dengan perumpamaan lilin.
Apalah arti semua, toh semua sudah terjadi. Terjerumus dalam satu lubang kenistaan, berimplikasi pada stagnya langkah menuju obsesi sang lelaki. Politik kantor, romantisme cinta, dan kebencian, menjadikan sang lelaki harus banyak belajar.
“Sahur, sahur,” teriakan seseorang di masjid melalui pengeras suara yang biasa digunakan adzan. Waktu telah menunjukkan pukul 02.45 WIB. Suara itu memecah lamunan sang lelaki yang segera beranjak dari tempat duduknya. Terima kasih, Rembulan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar