Sekadar satu refleksi, tidak ada salahnya mencoba mengupas satu misteri dalam dinamika hidup. Tulisan ini terinspirasi dari satu foto yang dikirimkan seorang kawan dari Pontianak. Foto ekslusif itu menggambarkan seorang lelaki yang melakukan suicide dengan menusukkan sebilah linggis dengan panjang sekitar setengah meter, tepat di perutnya.
“Dia bunuh diri karena patah hati,” jelas seorang kawan melalui pesan di internet. Foto itu sengaja tidak ditampilkan di blog ini demi alasan etika.
Pokok permasalahannya adalah romantisme cinta. Definisinya masih menjadi pemahaman masing-masing individu. Itulah sebuah abstraksi. Tidak mampu di tuangkan dalam penjelasan kata sampai dalam bentuk konkret sekalipun. Namun, kekuatannya sangat berpengaruh terhadap manusia, yang merasakannya.
Benedict, seorang ilmuwan sosial, membagi dua esensi perilaku manusia. Yaitu nafsu dan nalar. Menurutnya, perilaku manusia dapat dikatakan ideal jika kedua esensi yang krusial itu berjalan seiringan. Sebenarnya, konteks teori ini merupakan proses decision making berpolitik. Asumsinya, kehidupan manusia tidak terlepas dari proses politik.
Dalam romantisme cinta, manusia cenderung melupakan kekuatan nalar mereka. Nafsu menjadi dominan, mengalahkan nalar. Terbentuklah istilah, cinta itu buta, love is blind. Apapun dilakukan untuk menuangkan perasaan cinta dari manusia satu terhadap manusia lain. Ini dalam perspektif nafsu.
Dominasi nalar, memiliki implikasi negatif dalam satu hubungan romantisme cinta. Keangkuhan logika manusia, membentuk pemikiran egosentris. Tidak jarang, perceraian terjadi karenanya. Kerangka pemikiran manusia untuk mendapatkan sesuatu yang sesempurna mungkin, patut dipersalahkan!
Secara subyektif, dominasi nafsu lebih terdapat dari lelaki. Dominasi ini mampu membuat lelaki sekuat apapun, menjadi lemah karenanya. Ia juga mampu membuat lelaki sepintar apapun, menjadi bodoh, begitu bodoh. Sebaliknya, jika nalar yang mendominasi lelaki, perempuanlah yang menjadi korban.
Dalam gender, perempuan mampu menahan nafsu dengan diam tanpa melakukan perbuatan-perbuatan dan berpikir bodoh. Namun, perempuan begitu angkuhnya ketika nalar mendominasi pemikirannya.
Dua insan, terkadang melupakan segala sesuatunya, saat mereka sedang terbuai kenikmatan romantisme cinta. Keduanya, cenderung melihat ke atas dan tidak mau tahu dengan konsekuensinya. Let it flow, itulah pernyataan yang biasa terlontar dari mulut mereka saat tahap kasmaran.
Jika hubungan itu berakhir dengan tidak baik, biasanya yang merasa tersakiti akan mengatakan hujatan dan makian terhadap mantan pasangannya.
Sudah banyak orang yang mati karena cinta
Sudah banyak orang yang lemah karena cinta
Sudah banyak orang yang bodoh karena cinta
Kesadaran diperlukan untuk sama-sama menjadi bijak, tidak hanya menjalin romantisme cinta dengan kenangan-kenangan manis, tetapi lebih mencari celah bagaimana menghadapi dan mengatasi satu permasalahan demi kebaikan bersama.
1 komentar:
you are talking about love between men and women. what about other love? love to your country? a.k.a nationalism? how about that?
Posting Komentar