Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

24 September 2008

Give, Know, and Be Yourself…

Melakukan kontemplasi, bukan ditentukan pada kuantitas waktu. Tetapi lebih mendasar pada kualitas proses. Metodenya pun berbeda setiap individu. Esensinya adalah merekonstruksi pola pikir, sikap, dan tindakan. Pencarian jati diri yang lebih baik tentunya.

Dalam pendekatan psikologi ada tiga tingkatan dari upaya menemukan dan menjadi diri sendiri, yakni :
1.Tingkatan tertinggi adalah give yourself atau pada tingkat teologi, artinya penyerahan diri secara total kepada Sang Pencipta bahwa Dia mampu melakukan segala sesuatu atas kita. Tingkatan ini di dasarkan pada iman seseorang dan sejauh mana dia mengenal agama dan keyakinan yang dianutnya.
2.Tingkat kedua adalah know yourself atau pada tingkat filsafat (Socrates). Setelah manusia mengenal siapa Penciptanya, maka dengan rendah hati dia berusaha untuk mengenal dirinya yang penuh dengan kelebihan dan kekurangan.
3.Tingkat terakhir adalah be yourself. Pada tingkatan ini akan muncul keyakinan bahwa apa pun keadaan kita, akan mampu melakukan sesuatu tanpa harus merasa rendah diri dan putus asa. Menjadi diri sendiri, sekaligus menanamkan konsep bahwa setiap manusia dicipta untuk tujuan yang spesifik.

Keberhasilan manusia adalah mampu mengeksplorasikan segala kelebihan yang dimilikinya terhadap manusia lain, wujud dari eksistensinya sebagai makhluk sosial.
“Anda akan gagal kalau coba-coba meniru siapapun juga, tetapi anda akan menjadi ‘Anda’ yang terbaik yang pernah ada. Anda adalah satu-satunya yang dapat menggunakan kemampuan anda. Itu sungguh suatu tanggung jawab yang sangat besar.” (Zig Ziglar).

Bili P. S Lim dalam bukunya Dare to Fail mengatakan “No failure, only succes delayed”. Socrates juga pernah berkata unexamined life is not worth living (hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi).

Bagaimana memaknai setiap ujian hidup, menjadi sangat berarti bagi kita untuk meraih dan menikmati hikmahnya. Kontemplasi menjadi satu kebutuhan dan hak setiap manusia, pada saat rasa optimis menurun pada titik terendah.

(Terima kasih kepada seorang kawan yang memberikan buku Setengah Isi Setengah Kosong karya Parlindungan Marpaung)

Tidak ada komentar: