Mata baru bisa terlelap sekitar pukul 04.00 WIB pada Minggu (31/8), setelah menulis satu bahasan mengenai pemikiran. Baru tidur selama tiga jam, mata kembali terjaga, mendengar dering pesan masuk yang nyaris setiap setengah jam berbunyi. Intinya sama, menyambut Ramadhan.
Sekitar pukul 12.00, ada tamu. Oups, ternyata rombongan Tan. Dengan hati berdetak kencang, ikut menggabungkan diri. "Lho, kok tambah kurus?" sapaku pada seorang perempuan berkulit putih. Ia sering kupanggil Tan, yang usianya sebaya denganku. Dia seorang yang cerdas, cantik, dan sedikit "menantang", dalam berdiskusi tentunya.
Sudah lumayan lama, kami tidak bersua. Ketika melihatnya, konflik dalam diri tidak terbendung, memperebutkan dominasi peran.
Yah, jujur, anggaplah, pernah terjadi affair pada waktu sama-sama kuliah di Yogyakarta. Walau tidak berlangsung lama atau sangat singkat, segala jalan pikirannya, mudah ditebak, ke mana alurnya.
Kini, terdapat satu fakta, bahwa tembok baja menjadi satu batas yang kemungkinan ditembus sangatlah kecil.
Uniknya, ketika Tan besera rombongan pulang, berselang satu jam kemudian, datang seorang pria. Yah, pria itu tidak lain juga mantan dari Tan.
"Masih terasa sampai sekarang, apalagi sudah terlalu dekat dengan keluarganya," jelasnya pada satu hari di Batam.
Hm... Berbagai karakter, perilaku, dan hati dalam hidup. Generalisasi, makin mudah ketika bertemu dengan orang yang berbeda, tetapi memiliki kemiripan dalam karakteristik. Tan, secara tidak sadar, terkadang memposisikan dirinya menjadi seorang yang juga eksistensialis.
Semua kisah, tidak selamanya berakhir dengan kebahagiaan. Kini, hanya mampu sebatas mengagumi, hanya itu!
1 komentar:
even not all fairy tales have happy ending.
Posting Komentar