Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

02 Januari 2012

Selamat Tinggal 2011

DUA malam lalu, suara petasan menggelegar bersahutan. Langit gelap diterangi cahaya beraneka warna. Tepat pukul 00.00, suasana menjadi riuh. Ribuan orang dan kendaraan, berkumpul menjadi satu. Saya terjebak di antara kerumunan itu. Nyaris tiada celah untuk bergerak sedikitpun. Memandangi langit, dan sesekali melihat animo manusia pada perayaan pergantian tahun.

Mereka tampak begitu antusias. Sebagian di antaranya mengabadikan suasana itu dengan merekam atau sekadar mengambil foto melalui video yang ada di telepon selular. Di pojok lain, tampak pemuda pemudi bersorak dan bersahutan meniupkan terompet. Bahkan, ada yang berpelukkan dengan tawa lepas.

Momen pergantian tahun dalam kalender Masehi. Dari 2011, menuju 2012. Sejumlah teman, menganggap pergantian tahun tiada bedanya dengan hari-hari lain. Tanpa arti. Apalagi harus disambut dengan cara yang berlebihan.

Saya sepakat dengan sejumlah teman tadi. Namun, faktanya, tahun baru menjadi satu momen penting bagi sebagian besar manusia. Tentu mereka berharap pada tahun itu bisa lebih baik dibandingkan masa lampau. Harapan yang retoris. Harapan sekadar harapan belaka, yang muncul pada saat awal.

Pada konteks kehidupan bernegara, rakyat berharap lebih pada pemerintah sebagai pengelola negara. Terutama pada hal yang menyangkut kesejahteraan ekonomi, politik, dan hukum. Tahun-tahun sebelumnya, dianggap sebagian rakyat belum memuaskan perut mereka. Apalagi masalah hukum, yang cenderung lebih berpihak pada penguasa atau pemilik uang berlimpah.

Harapan itu selalu berulang dari setiap pergantian tahun. Sekali lagi, harapan itu sekadar retorika belaka. Rakyat banyak berharap. Ada sedikit perjuangan. Tapi, bukan perjuangan dalam arti sesungguhnya. Banyak yang menyuarakan aspirasi rakyat, dan kemudian meleburkan diri pada kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Sepertinya jarang manusia yang belajar dari masa lampau. Pada saat mencapai kebahagiaan sesaat, mereka lupa. Namun, pada saat jatuh, mereka berharap iba dari manusia lainnya. Karakter manusia yang dianggap wajar, dan kemudian diakui sebagai sifat yang manusiawi.

Rakyat ada yang berharap banyak dari pemerintah. Sebagian hanya berharap perbaikan sikap pemerintah, tapi tidak pernah memperbaiki dirinya sendiri. Pelanggaran kolektif masih saja dilakukan. Padahal, pelanggar ini sebagian besar berasal dari kalangan intelektual. Pemandangan itu seringkali saya jumpai di lampu merah. Sebuah contoh paling sederhana.

Faktanya, seringkali realitas tidak seperti yang saya pikirkan. Bahkan tidak jarang, terpaksa membenturkan diri dengan idealisme. Tatanan berpikir semakin terkikis dan terkontaminasi. Termasuk bagi mereka yang memegang tegur ideologinya masing-masing dulu kala. Akhirnya luluh tak terkendali.

Terlepas dari ketiadaan arti pergantian tahun, saya tetap menikmatinya. Bersyukur masih bernapas panjang, walau sesekali tertatih. Pergantian tahun sekadar momen dan juga simbol. Dalam artian yang lebih luas, untuk memicu beragam perubahan.

Selamat tinggal masa lampau. Kini, saya harus menghadapi keangkuhan waktu pada masa kini dan masa depan. Dengan satu kata, perjuangan.

Tidak ada komentar: