AKU baru sadar bertemu dengan Tuhan beberapa tahun ini. Pertemuan itu bukan secara langsung. Laiknya aku bertemu dengan dia, yang bisa saling menatap, dan mendeskripsikan karakter wajah atau tatapan matanya. Pertemuan dengan Tuhan, terwakili segala benda yang ada di sekeliling jasad ini. Benda itu bisa berupa alam semesta, atau sifat yang ada pada manusia.
Eksistensi Tuhan benar-benar nyata, walau tidak pernah menunjukkan wujudnya sekalipun. Ruang, waktu, dan materi, telah diatur sedemikian rupa demi kepentingan manusia dan makhluk hidup lainnya di alam semesta. Aku bisa merasakan segala kekuasaan Tuhan yang tanpa batas.
Tuhan merupakan Maha dalam segala hal. Aristoteles menyebutnya sebagai Maha Baik. Sifat kebaikan Tuhan adalah mutlak, dan tidak perlu diperdebatkan. Manusia tidak sekadar tahu. Tapi mereka meyakini kebaikan Tuhannya masing-masing. Entah, ada berapa Tuhan yang disembah makhluk hidup yang memiliki hati dan pikiran itu.
Montaigne pernah mengatakan, manusia itu benar-benar gila! Mereka tidak bisa menciptakan seekor tikus sekalipun, tetapi manusia mampu menciptakan berlusin-lusin Tuhan.
Segala apa yang ada di alam semesta ini, tidak terjadi secara kebetulan. Prinsip determinasi berlaku. Artinya, tiada satu pun benda yang kemudian berdiri sendiri tanpa adanya alasan. Namun sekali lagi, aku mengenal Tuhan bukan sebagai benda atau makhluk.
Aku memang merasakan kehadiran Tuhan di manapun ruangnya. Tapi, aku belum mengenalnya secara baik. Hubungan aku dengan Tuhan, seringkali terputus. Aku kerap mengabaikan, dan kemudian berpaling kepada urusan duniawi yang begitu menggoda.
Pada titik tertentu, aku mengagumi ciptaan Tuhan dari hal terkecil. Bermilyar manusia di bumi, tiada satu pun yang sama. Berbagai benda dan makhluk saling bermanfaat. Tuhan membuat planet di dunia astronomi saling bergerak teratur. Aku membayangkan kalau keteraturan itu kemudian lenyap.
Tuhan begitu menyayangi manusia, dengan menurunkan wahyu yang diabadikan dalam kitab. Wahyu itu sebagai petunjuk. Berisi janji dan ancaman dalam kitab, Tuhan tidak ingin manusia terjerumus dalam kesesatan kehidupan setelah kematian. Yaitu antara Surga dan Neraka. Begitu juga petunjuk yang disampaikan utusan Tuhan.
Aku belum mengenal Tuhan seutuhnya. Mungkin dibandingkan mereka, yang disebut alim ulama, pendeta, atau para biksu. Pada waktu tertentu, keangkuhan nafsu membuat aku melupakan Tuhan. Aku hanya melupakannya, bukan membencinya.
Saat ini, aku begitu ingin mengenal Tuhan. Bukan sekadar dalam bentuk ekspresi tangisan. Tapi, lebih kepada menganggap sesuatu dalam hidup adalah kekuasaan Tuhan. Tentu aku menyadari, kemampuan berpikir manusia terbatas. Aku ingin mengenal Tuhan, dari hati.
Tuhan, ampuni kami, manusia, yang kerapkali tergoda nafsu duniawi. Kebaikan atau ibadah yang aku lakukan, adalah satu bentuk untuk mengenal Tuhan lebih dekat lagi. Aku berharap dengan mengenal Tuhan, aku bisa melaksanakan perintah, dan menjauhi larangan Tuhan.
Aku tidak ingin membunuh Tuhan, seperti yang dikatakan Friedrich Nietzsche. Menurutnya Tuhan telah mati, dan kita yang membunuhnya. Bukan mati dalam pengertian harfiah. Namun, Tuhan digunakan pembenaran untuk saling membunuh. Juga secara tidak langsung, beragam amoralitas juga telah membunuh Tuhan dengan sendirinya. Sadar atau tidak.
Karl Marx juga pernah mengatakan bahwa agama yang berisi Tuhan itu sebagai candu, karena hanya dijadikan tempat pelarian para pesakitan dan orang yang tidak memiliki harapan. Agama dan Tuhan telah di reduksi oleh masing-masing pemeluknya.
Aku tidak ingin hanya sekadar mengenal Tuhan dalam kondisi pesakitan. Namun, aku juga ingin mengenalnya dalam ketidakaturan kehidupan. Kini, aku menjadi lebih mengenalnya melalui seseorang. Itu karena aku yakin, Tuhan memberikan pencerahan kepada siapapun, dengan media apapun, dan dalam kondisi apapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar