Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

17 Desember 2011

Romantisme Nostalgia

BUKU-buku itu masih tertata rapi. Di rak kayu yang mulai keropos, yang juga menjadi wadah sejumlah skripsi kawan kampus. Selain itu, tumpukan kertas berisi bahan mata kuliah juga tergabung di dalamnya. Semuanya sudah tampak kusam kurang terawat dan tidak pernah tersentuh selama beberapa tahun ini.

Rak itu terletak di pojok kamar. Ruangan yang memanjang ini, adalah sebuah tempat di mana aku menghabiskan waktu pada saat berada di rumah. Di sini, aku hanya belajar sedikit. Banyak waktu yang dihabiskan di kamar yang ada di dekat kampus, bersama kawan-kawan satu jurusan. Apalagi dengan Komunitas Diskusi Ilmiah yang terbentuk pada semester akhir.

Masa itu, adalah proses pembentukan sistematika berpikir. Banyak serapan ilmu akademisi yang didapat dari kawan-kawan, yang sebagian di antaranya termasuk aktivis kampus. Berdialektika bersama mereka, menjadi pencerahan yang tetap eksis sampai saat ini. Semuanya terjadi di kamar yang berjarak lebih dari 20 kilometer dari rumah.

Lamunan romantisme masa kuliah terbuyarkan. Pikiran beralih pada saat menatap rak buku itu. Buku-buku itu nyaris terlupakan. Padahal, kontribusinya terhadap pondasi pola berpikir begitu besar. Proses kehidupan setelahnya, membuat aku mencampakannya.

Aku mengambil skripsi berjudul Peran Military Industrial Complex dalam Pencabutan Sanksi Embargo Militer Amerika Terhadap Indonesia. Inilah karya penutup, pada saat menempuh pendidikan di sebuah universitas swasta di Jogja. Karya ini dibuat pada pertengahan 2006, dan selesai selama beberapa bulan. Karya ini, juga menjadi awal bagi karya selanjutnya.

Namun, aku hanya membukanya sesaat. Tidak secara detail membacanya. Teori pendukungnya hanya sedikit yang masih terbayang. Aku pun mengembalikan karya itu di tempat semula. Kemudian, aku termenung sejenak.

Setiap kali mengunjungi rumah, menyempatkan waktu untuk menatap keadaan kamar yang berada di lantai dua itu. Tapi sayang, sudah beberapa tahun ini tidak melihat kamar bersejarah yang ada di Jogja. Hasrat untuk sekadar menjenguknya, sebagai pelampiasan bernostalgia. Sungguh tiada masa yang indah kecuali pada masa itu.

Saat ini, terlalu banyak distorsi yang mengerak di dalam otak. Menyingkirkan paradigma lalu. Konflik perasaan dan logika seringkali pecah. Implikasinya, disorientasi setiap saat menyapa. Fakta dari kenyataan itu sendiri tidak mampu dihentikan. Keangkuhan waktu masih tetap berjalan. Siap atau tidak, harus dihadapi karena menjadi satu keniscayaan.

Banyak hal yang tidak mungkin terulang. Banyak keindahan yang terlewati begitu saja. Dan, terlalu banyak kenangan yang tidak akan terlupakan. Aku pun hanya bisa menghadapi saat ini, sekaligus mempersiapkan segala sesuatunya yang akan dan memang harus terjadi. Terima kasih romantisme bernostalgia...

Tidak ada komentar: