Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

15 Desember 2011

Titik Pencerahan

AKHIRNYA, bisa berdamai dengan hati. Walau sekejap, tapi momen itu menjadi penting dan yang utama. Apalagi ketika perasaan mulai muak dengan beragam intrik manusia. Dan, pada saat skeptis yang perlahan terkikis. Terpaksa berlari sesaat menghindari kontaminasi yang lebih dari sekadar melihat atau merasakan.

Melakukan sinergi hati dan pikiran, tidak mudah. Benturan keduanya seringkali terjadi. Tanpa mengenal ruang dan waktu. Peran keduanya berimplikasi pada suatu tindakan. Sesekali hati yang membentuknya. Namun, tidak jarang pikiran yang menuntunnya.

Pada saat hati dan pikiran menciptakan romantismenya, eksistensinya kemudian hadir dalam jangkauan fantasi. Bukan sekadar menjadi pelengkap. Dia, justru menyempurnakan kontemplasi. Sisipan dirinya tanpa disengaja dan bukan pula sebuah kebetulan. Percaya atau tidak, silakan.

Ternyata, jasadnya begitu nyata. Hati dan pikiran, berpaling kepadanya. Takluk akan kesejukan yang diberikan semua yang ada pada dia. Untuk sementara waktu. Karena dia belum sepenuhnya mengerti. Apalagi memahami kata kesungguhan. Entah, disengaja atau tidak.

Konstelasi perdamaian hati dan pikiran tadi benar-benar menemukan kesempurnaannya. Dia datang pada saat yang tepat. Anomali masih tersingkirkan dari kisah romantisme perdamaian hati dan pikiran itu.

Ikhtiar masih menjadi kata kunci, sebagai bentuk dari adanya satu keyakinan. Bukan sebuah angan-angan belaka. Merebut kepercayaannya, adalah sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan dengan segala konsekuensinya. Apapun prosesnya.

Dalam waktu beberapa hari lagi, pergolakan antara hati dan pikiran pasti terjadi. Keduanya saling berebut dominasi peran. Proses perdamaian keduanya hanya ada pada saat tertentu. Dua unsur ini pun berharap dia mampu menjadi satu titik pencerahan, untuk membebaskannya dari keterasingan. Bukan hanya sesaat. Namun, untuk menuju pencapaian perdamaian abadi.

Tidak ada komentar: