AKU melihat benda. Bentuknya jelas, dengan lekukan yang elegan. Aku ingin memilikinya, menyentuhnya, dan menikmati benda itu. Dia nyata di hadapanku. Mengagumkan. Semakin lama aku memandangnya, semakin pula bertambah keinginan untuk segera meraihnya. Namun, benda itu ternyata begitu angkuh. Dan, aku tidak sanggup membelinya. Apalagi memilikinya.
Benda lain yang ada di sebelahnya, juga menarik perhatian tatapan. Warna dan bentuknya, tidak kalah menarik dari benda yang kulihat sebelumnya. Tapi, harganya jauh lebih murah. Lagi-lagi, dibandingkan benda yang awal tadi. Sama-sama dipajang di satu etalase.
Aku bertanya, kepada penjual kedua benda itu. Pertanyaan itu kemudian terjawab. Benda itu memiliki bahan pembuatan yang sama. Namun, perbedaannya terletak pada fitur. Yang lebih mahal, tentu instrumennya lebih lengkap, canggih, dan smart. Pepatah lama. Harga menentukan kualitas benda.
Mengetahui perbedaan tadi, keinginan untuk memiliki satu di antaranya, akhirnya bisa tertahan sementara waktu. Seandainya aku memaksakan, aku bisa memiliki barang dengan harga yang murah. Tentu dengan konsekuensi pada fitur yang terbatas.
Orientasinya, bukan terletak pada fungsinya yang sama. Kalau aku mampu membeli benda yang lebih mahal dengan fitur beragam, kenapa tidak? Aku harus bersabar beberapa lama. Tidak apa, kalau selama aku mengumpulkan sesuatu untuk memilikinya, aku hanya sebatas memandangnya.
Benda itu, hanya dipajang pada satu toko. Tidak ada benda yang sama, di toko lainnya. Hasrat memilikinya, tiba-tiba punah. Benda itu, sudah tidak pada tempatnya. Dia sudah menjadi milik konsumen lain. Padahal, aku sudah menggenggam bekal untuk memilikinya. Sayang, ternyata dia harus berpindah tangan.
Namun, benda yang lebih murah, masih teronggok. Benda itu memancarkan sesuatu. Tanpa pikir panjang, aku membelinya. Pada saat
transaksi selesai dilakukan, datang seseorang. Dengan nada sedikit tinggi, dia mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap benda yang dibelinya beberapa hari lalu.
Benda yang dibeli pria parlente itu, adalah benda yang dulu ingin kumiliki. Konsumen itu, memperlihatkan benda itu kepada penjual. Setelah diperiksa, sejumlah perangkat benda itu ternyata berbahan dengan kualitas buruk.
Keraguan muncul akan benda yang baru saja aku bayar. Benda mahal itu ternyata berkualitas buruk. Bagaimana dengan benda yang aku bawa? Dengan meyakinkan, penjual tahu apa yang ada dalam pemikiranku. Dia, memberi garansi seumur hidup.
Dia mendapat kepercayaanku. Aku tetap membawa benda itu pergi dari toko.
Sesampainya di rumah, aku membuka bungkusannya. Lalu, perlahan aku mengamati satu per satu instrumennya. Dibandingkan dengan benda yang lebih mahal tadi, ternyata benda ini memiliki instrumen yang jauh lebih bagus. Walaupun dengan fitur terbatas.
Kini, sudah beberapa tahun, aku menggunakan benda tadi. Tanpa adanya masalah yang berarti. Aku masih merasakan manfaatnya. Aku pun mulai tersadar. Tidak selamanya, harga mahal menentukan kualitas. Tidak selamanya pula, apa yang baik di hadapan, diikuti dengan instrumen di dalamnya. Aku hanya butuh kesabaran.
2 komentar:
mantab pa' semua kembali kepada kebutuhan.kalau ada yang bagus dan murah buat apa bayar yang lebih mahal
hahahaha... betul sekali.. murah, bermanfaat, dan eye catching tentunya.... wuakakakka
Posting Komentar