Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

18 April 2011

10 Bulan Ditodong Senjata Perompak

MENJADI kisah yang tidak terlupakan seumur hidup. Selama 10 bulan, Aep Saepudin harus bertahan dengan ditodong beragam senjata oleh puluhan perompak Somalia, di atas kapal Win Far milik perusahaan Win asal Taiwan. Perompakan itu terjadi di luar perairan Somalia.

Pagi itu, 9 April 2009. Sekitar pukul 06.00. Kapal carrier Win Far dengan kecepatan 32 knot, dipepet dua speed boat dari sisi kiri dek. Enam orang naik ke kapal dengan tangga yang sudah dipersiapkan, menenteng berbagai jenis senjata api. Sebagian besar di antaranya, membawa senjata jenis AK 47. Mereka langsung memberondong tembakan ke udara. Tembakan peringatan.

Sebanyak 32 anak buah kapal (ABK), ditawan di dek atas bagian depan. ABK itu berasal dari Filipina, China, Taiwan, dan enam orang adalah warga Indonesia. Mereka adalah Aep, Nio Tantan Rustandi, Rudi Setiawan, Aman Suryaman, Tukiman, dan Kusnadi.

"Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Satu speedboat yang lain, mengarahkan RPG ke arah kapal kami. Perompak pakai baju santai. Ada juga yang pakai kalung butir peluru," kata pria berusia 24 tahun ini saat ditemui di rumahnya, di Jalan H Gofur No 13, RT 01/02, Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (17/4).

Semua perompak sebanyak 12 orang, langsung menggiring ABK ke dek atas. Mereka tidak diperkenankan masuk ke dalam kabin. Pada awalnya, awak kapal belum tahu, bahwa mereka dibajak. Para tawanan menduga, mereka adalah polisi yang hendak memeriksa kelengkapan dokumen kapal.

"Tapi, akhirnya kami tahu mereka adalah perompak, setelah ada penterjemah yang datang. Para perompak meminta tebusan sebesar 9 juta dolar Amerika Serikat kepada pengusaha pemilik perusahaan Win Company," ujar anak tunggal dari pasangan Beni Setiawan dan Sumiati ini.

Kapal itu sudah berlayar selama tujuh bulan, untuk mengambil hasil ikan tuna yang diperoleh kapal lain. Pada saat berlayar, ada ratusan ton ikan tuna dan logistik. Cukup untuk satu tahun bekal hidup ABK selama berlayar.

Di atas dek kapal bagian depan, ABK harus bertahan hidup dengan penjagaan super ketat dari perompak yang menenteng senjata dalam keadaan terkokang. Bahkan, di depan kapal, sudah ada senjata berat yang disiapkan untuk mengantisipasi usaha penyelamatan. Penjagaan dilakukan sekitar 30 perompak, yang bergantian terus menerus.

Untuk mengamankan kapal dari upaya penyelamatan, para perompak membawa kapal ke wilayah perairan Somalia. Perlu 14 hari perjalanan. Aep mengaku tiga hari sebelum ditahan, para ABK sudah curiga dengan kapal yang mengikuti mereka. Perlahan, jaraknya semakin mendekat.

"Ternyata perompak berkamuflase, dengan menggunakan kapal mewah. Kapal itu juga ditahan dengan tiga orang Inggris di dalamnya. Speedboat yang dipakai perompak, juga dari kapal mewah itu," ujarnya.

Setelah 14 hari perjalanan menuju perairan Somalia, Win Far menurunkan dua jangkarnya. Orang tua dan anak-anak, menyambut kedatangan kapal yang baru saja dibajak itu. Mereka mengambil barang-barang milik ABK yang bisa dibawa.

Selama proses negosiasi antara perompak dengan pemilik perusahaan, para ABK harus hidup di dek atas bagian depan. Mereka kepanasan, dan kehujanan. Sesekali, perompak menyuruh tawanan untuk mencuci baju mereka. "Perompak menyuruh kami mencuci baju mereka. Setelah itu, dikasih enam batang rokok sebagai upah," kata Aep, yang menjabat sebagai Chief Engineering kapal.

Tiga bulan ditawan perompak, bahan bakar solar habis. Mesin pendingin mati, dan mengakibatkan ratusan ton ikan tuna membusuk. Tawanan pun akhirnya tidak bisa makan dari logistik yang ada di kapal. Para perompak memberikan mereka beras, sebanyak 25 kilogram untuk tiga hari. Tanpa lauk, dan satu kali makan dalam sehari.

"Karena kondisi seperti itu, Kusnadi akhirnya jatuh sakit dan meninggal. Jenazahnya dibawa perompak ke daratan. Katanya mau dikuburkan. Dia berasal dari Serang, Banten. Sepekan setelahnya, gantian satu orang berasal dari China juga meninggal. Dia itu koki kami. Jenazahnya, kami buang ke laut. Beberapa hari, kami hanya terdiam setelah membuang jenazah itu," ujarnya.

Menurutnya, intervensi militer untuk membebaskan para tawanan, sangat tidak memungkinkan jika dilakukan di perairan Somalia. Apalagi para perompak selalu siaga. Di setiap sudut kapal, perompak menenteng senjata yang siap untuk ditembakkan.

"Pembebasan secara militer itu mungkin dilakukan, kalau masih dalam perairan lepas. Sama ketika Malaysia membebaskan tawanan. Karena baru dua jam terjadi, dan perompak masih mempelajari kapal. Jadi, mending membayar jaminan demi keselamatan tawanan," ujar pria yang kini bekerja di perusahaan swasta di Kabupaten Bandung Barat.

Setelah melalui proses negosiasi selama 10 bulan, akhirnya pemilik perusahaan Win Company bersedia membayar tuntutan perampok. Namun, jumlahnya hanya 700 ribu dolar Amerika Serikat. Perompak setuju.

Pada 11 Februari 2010, sekitar pukul 09.00 waktu setempat, satu unit helikopter milik pasukan China membuang tabung besar ke laut. Tabung berukuran panjang tiga meter dan berdiameter sekitar setengah meter itu, berisi uang tebusan kepada perompak.

Tawanan yang dikawal perompak, mengambil tabung laiknya peralon raksasa tersebut untuk dibawa ke kapal Win Far. Mereka membuka dengan mengelas dan membongkar gembok. Isinya, sebanyak 705 ribu dolar Amerika Serikat.

Empat jam kemudian, perompak meninggalkan tawanan begitu saja di kapal. Tanpa mengucapkan salam, mereka berlalu menggunakan speedboat. "Tiga hari sebelum pembebasan, kami diberi dua ton solar untuk menuju perairan lepas. Solar hanya bisa dipakai dua jam perjalanan. Bahan bakar itu juga dari kapal lain yang dibajak," kata Aep.

Sekitar pukul 14.30, mereka kemudian berlayar menuju perairan lepas. Sepanjang perjalanan menuju perairan lepas, kapal destroyer dan helikopter pasukan China terus mengawasi Win Far. Kapal itu, kemudian diberikan solar dan dikawal selama 22 hari sampai ke Srilanka.

"Kami dilepas sendirian begitu sampai di Laut Malaka. Kami langsung menuju Taiwan. Di sana, kami disambut Presiden Filipina, Gloria Aroyo. Tidak ada satupun orang dari pemerintah Indonesia yang menyambut kami. Padahal, ada enam warga dan satu orang di antaranya meninggal," kata lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda ini.

Tidak ada komentar: