Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

28 Maret 2011

Kepentingan

SELALU ada yang memerintah dan yang diperintah. Seperti halnya tubuh, yang selalu bergerak atas dasar perintah roh. Bebas, melakukan apa saja. Atasan, kebagian melakukan perintah kepada bawahannya. Semakin ke atas, dia bertambah kekuasaannya untuk memerintah.

Kekuasaan, selalu melekat dalam diri pemimpin. Konsep perbudakan, memang telah hilang. Namun, mekanismenya tetap sama, dengan kata yang berbeda. Katanya, zaman sekarang, hak asasi manusia lebih mendapatkan tempat dibandingkan pada era pemikiran Plato mulai berkembang atau jauh sebelumnya.

Tapi, sejumlah kawan seringkali mengeluh atas pekerjaan yang dibebankan. Mereka merasa dijadikan sebagai sapi perah. Entah demi kepentingan atasan, atau ruang lingkup yang lebih luas lagi. Yaitu korporasi. Tentu, ujung-unjungnya adalah ekslusifitas dengan orientasi keuntungan.

Saya tersenyum, ketika seorang tokoh budayawan terkemuka mengatakan, sebuah ilmu harus dilepaskan dari kepentingan. Bukankah mengejar ilmu atau menciptakan ilmu itu sudah berdasarkan kepentingan? Sekali lagi, tidak ada sesuatu yang melepaskan dirinya dari kepentingan. Seperti halnya objektifitas, tanpa intervensi subjektifitas.

Nilai, selalu menjadi tujuan. Bukan ditempatkan dalam proses untuk meraih tujuan. Entah dalam bentuk materi, atau apapun! Kepentingan, akan dengan sendirinya menghilang pada saat berhentinya hidup. Laiknya manusia, yang terus berpikir, kecuali dia dalam keadaan tidur atau mati.

Kepentingan, menjadi kekuatan yang begitu besar. Bahkan, deminya, manusia bisa berubah begitu kejam. Saling senggol, tanpa belas kasihan. Apalagi, jika kepentingan itu berkaitan dengan materi, kekuasaan, dan romantisme cinta.

Memanusiakan manusia, seakan tergerus dengan kepentingan. Orientasi mendapatkan keuntungan dalam bentuk materi, selalu saja mendominasi dibandingkan kepentingan lainnya. Pucuk pimpinan, merupakan pengambil kebijakan. Entah dalam korporasi, atau dalam konteks negara.

Menanggapi beragam keluhan yang diungkapkan sejumlah kawan tadi, saya hanya bisa menanggapi secara bijak. Manusia, diberikan kebebasan penuh dalam memilih jalan hidup. Keputusan yang diambil, menentukan kepentingan. Menjadi yang diperintah, atau yang memerintah.

Anda, boleh muak atau jijik melihat kepentingan. Namun, dia selalu ada, dan harus ada. Mau tidak mau, memang mutlak terjadi. Semakin mengeluh, membuat kita justru terjebak dalam pertarungan kepentingan.

Tidak ada komentar: