DEMI menggapai cita-cita menjadi seorang guru, Titin Kartini berjuang. Bocah kelas VI Sekolah Dasar (SD) Cadas Mulya ini harus berjalan lebih dari empat kilometer setiap hari dari rumah ke sekolahnya, yang terletak di RT 03/06, Kampung Cadasgorowong, Desa Campaka Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.Rumah Titin berada di RT 03/11, Kampung Palasari, Desa Cirawamekar, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Dia harus berangkat lebih awal karena harus berjalan kaki menempuh perbukitan, persawahan, rel kereta api, dan hutan. Namun, perjalanan itu dilakoninya dengan suka hati.
"Saya pergi sekitar pukul 06.30, bersama tiga orang kawan. Perjalanan sekolah melalui kebun, hutan, sawah, dan menyeberang rel kereta api yang menghubungkan Padalarang dan Cianjur. Saya tidak takut karena sudah dari kelas I sampai sekarang jalan kaki," kata bocah berusia 12 tahun ini di sekolahnya, Senin (21/3).
Kalau hujan, anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Suparman dan Noneng ini hanya menggunakan daun pisang untuk melindungi tubuhnya. Dia berangkat pukul 06.30 dan sampai kembali di rumahnya sekitar pukul 16.00. Apalagi ada pemantapan ujian, yang baru selesai pukul 15.30.
Selain Titin, perjuangan yang sama dilakukan Eva Novita Sari. Demi tekadnya untuk menjadi pendidik dan mencerdaskan anaknya kelak, setiap hari dia harus menempuh jarak sekitar tiga kilometer. Rumahnya terletak di Kampung Lemah Leundeut, Desa Lebak Leungsir, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat.
"Alhamdulillah, selama ini tidak pernah bertemu hewan liar. Saya hanya ingin belajar seperti anak yang lain. Hanya SD Cadas Mulya yang paling dekat. Lainnya lebih jauh lagi. Saya ingin jadi guru karena ingin anak saya juga pintar," kata bocah 12 tahun ini seraya tersenyum.
Menurut Wali Kelas VI SD Cadas Mulya, Wiwin Winarsih, sekitar tiga puluh persen dari jumlah murid di SD yang didirikan sejak 1976 itu memiliki rumah yang jaraknya jauh. Ada yang dari Kecamatan Cipatat, ada juga yang dari Kecamatan Cikalong Wetan.
"Mereka jalan melalui hutan dan pegunungan. Sebagian besar juga dari ekonomi yang kurang karena termasuk desa tertinggal. Orang tua murid memiliki mata pencaharian sebagai buruh," kata guru yang sudah mengabdi selama 23 tahun di SD Cadas Mulya ini.
SD Cadas Mulya didirikan secara swadaya oleh masyarakat sekitarnya. Sekolah itu memiliki 270 murid, dengan enam ruang kelas. Pengajarnya terdiri atas empat guru pegawai negeri sipil dan tujuh guru honorer.
Selain memiliki murid dengan tempat tinggal yang jauh, SD ini justru menjadi motivasi tersendiri untuk menciptakan prestasi. Beberapa prestasi yang dulu sempat diraih adalah termasuk sepuluh besar olimpiade matematika pada empat tahun lalu di tingkat kabupaten.
Berbagai upaya pun dilakukan para guru untuk meningkatkan kemampuan belajar muridnya, termasuk merencanakan proyektor untuk menunjang pelajaran. Apalagi saat ini tiap guru sudah memiliki netbook dan bisa digunakan sebagai media menyampaikan materi pelajaran.
"Selain menghemat kapur tulis, alat peraga seperti proyektor lebih disukai anak-anak. Mereka juga lebih mudah mengingat pelajaran yang diajarkan melalui media tersebut. Mudah-mudahan bisa terealisasi karena sekarang sudah mengajukan," kata perempuan berusia 48 tahun ini.
3 komentar:
Maz Agung ...bagus sekali liputan dan reportase anda...semoga dilain waktu ..tinggal mbak Wiwin Winarsih di profil-kan saja palagi kabar-nya dia juga iajukan sebagai guru teladan di padalarang..makasih sala buat Mas Arief Permadi...Nuwun mas.
Maz Agung ...bagus sekali liputan dan reportase anda...semoga dilain waktu ..tinggal mbak Wiwin Winarsih di profil-kan saja apalagi kabar-nya dia juga diajukan sebagai guru teladan di padalarang..makasih salam buat Mas Arief Permadi...Nuwun mas.
sama-sama pak, terima kasih.. tapi dapat blog ini dari mana ya :D hehe.. ya kalau beliau terpilih, nanti bisa diambil. semoga bisa memacu.. thanks
Posting Komentar