SEORANG kawan, pernah bertanya, "Apakah arti kontemplasi?" Pertanyaan itu muncul, ketika melihat status saya di Blackberry Messenger. Dalam kamus besar bahasa Indonesia online, kontemplasi adalah renungan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh. Sedangkan berkontemplasi, berarti merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian.
Saya menginterpretasikan kontemplasi dengan rehat. Perenungan pencapaian diri mencari kedamaian. Kontemplasi akan terus dilakukan secara berulang, karena kedamaian itu sendiri masih bersifat kontemporer. Selain perenungan, kontemplasi juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan rekonstruksi. Memulai pondasi berpikir baru, atau sekadar memperbaiki celah.
Dalam periode tertentu, saya menyisihkan ruang dan waktu untuk rehat. Itu yang saya sebut sebagai kontemplasi. Pikiran dan jasad. Melepaskan segala kepentingan yang memberatkan. Namun pada kenyataannya, kesempurnaan dalam berkontemplasi sulit diciptakan. Saya hanya ingin benar-benar telanjang walau sementara. Tapi, masih saja ada sesuatu yang melekat.
Saking banyaknya, saya lupa dalam tahun ini berapa kali melakukan kontemplasi. Memang bukan seorang pemikir yang baik. Bagi saya, kontemplasi yang mendekati kesempurnaan adalah pada saat hal itu dilakukan di rumah. Bercengkerama dengan keluarga dan kerabat.
Tidak terasa, tahun ini akan segera menutup kalendernya. Tinggal hitungan hari lagi, membuka lembaran pertama memasuki 2011. Banyak hal yang telah dilakukan selama satu tahun. Semuanya sekadar menjadi sejarah. Dan, masih banyak pula yang kudu dilakukan pada waktu-waktu berikutnya.
Saya menganggap satu tahun ini, berbagai tantangan dan risiko baru bermunculan. Menjadi pelajaran, sekaligus pengalaman. Dosa yang terlewati begitu banyak dan menumpuk. Tidak mungkin terkikis bersih.
Pada suatu waktu, teringat berbagai peristiwa yang terjadi pada bangsa ini selama rentan satu tahun. Sekilas, dia mewarnai kontemplasi yang saya lakukan. Tapi, saya bukan apa-apa. Saat ini, sekadar menjadi penonton yang termangu. Mungkin, bangsa ini perlu melakukan kontemplasi.
Manusia memerlukan kontemplasi. Sangat penting dilakukan, agar manusia itu tidak melupakan apa yang ada pada dirinya. Kesempurnaan berkontemplasi, ketika manusia itu mampu membentuk secara nyata penciptanya. Bukan hanya sekadar abstraksi dari fantasi dan simbolik. Namun sayang, saya pun masih menjadi penikmat dari kontemplasi mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar