JUMAT (10/12/2010) pagi. Saya dan beberapa kawan, menyeberangi terusan aliran Sungai Saguling, yang terletak di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Kami naik perahu mesin, yang kira-kira cukup untuk 10 orang, berikut dua kendaraan roda dua. Namun, kendaraan kami titipkan di dermaga.
Dua bocah, menjadi operator perahu yang kami tumpangi. Usianya 19 dan 15 tahun. Keduanya terpaksa putus sekolah, dan memilih menyeberangkan warga sekitarnya. Penghasilan bersih yang mereka dapatkan setiap hari, sebesar Rp 10 ribu per orangnya.
Perahu kayu itu pun meninggalkan dermaga. Mengarungi air yang tenang. Sepanjang perjalanan, tampak beberapa rumah apung dengan tambak ikannya. Selain itu, beberapa bukit yang kami lalui, dipenuhi lubang akibat dikeruk untuk kemudian dijual.
Perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit. Sesampainya di daratan, beberapa pengojek menawarkan jasanya. Namun, kami memilih berjalan kaki. Tujuan kami, ingin melihat bangunan sebuah sekolah yang rubuh. Letaknya hanya sekitar 50 meter dari dermaga.
Sekilas, sekolah itu tampak baik dengan plangnya yang berdiri kokoh. Tapi, begitu melewati pintu gerbang yang cukup untuk dua orang, kami terperangah. Ada dua bangunan. Masing-masing terdiri dari tiga kelas. Kedua bangunan itu, begitu memprihatinkan.
Dindingnya sudah tidak berupa. Sebagian langitnya jebol, dan gentingnya pun banyak yang hilang. Mebeler di dalamnya, rusak parah. Pandangan kami tertuju pada ujung bangunan sebelah kanan. Lebih dari separuhnya, sudah berupa puing-puing reruntuhan.
Dua bocah laki-laki, berdiri di antara puing-puing itu. Melihat bangunan di sekolahnya, hancur. Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Kami pun mengabadikan momen tersebut.
Ternyata, bangunan itu sudah berdiri sejak sekolah itu eksis pada 1974. Belum pernah sekalipun direhab! Karena mengancam, dua bangunan itu sudah tidak digunakan sejak dua tahun lalu. Gantinya, murid sekolah itu belajar di bangunan yang baru didirikan pada 2008. Hanya tiga kelas. Mereka harus bergantian. Bahkan, seringkali kegiatan belajar mengajar lesehan dilakukan di teras kelas yang baru. Kalau hujan, yang berada di teras diperbolehkan pulang.
Untuk mengetahui kisah ini, kami berjalan dengan didampingi beberapa siswi. Melalui jalan setapak dan berlumpur. Ternyata, masih ada tempat seperti ini. Apalagi, di pulau Jawa. Sampailah di pinggir sungai lagi. Kami harus kembali menyeberang, untuk bertemu ketua dewans sekolah yang roboh tadi. Itu pun hanya diperkenankan dua orang, karena keterbatasan beban di rumah apung.
Saya dan seorang kawan, akhirnya menuju rumah apung tersebut. Menumpang perahu kayu yang hanya cukup tiga orang. Sesampainya di rumah apung itu, pria renta melongok dan mengucapkan salam. Dia, sedang sakit dan tidak bisa berjalan. Kami pun banyak berbincang.
Setelah cukup waktu dan data, kami kembali menuju sekolah tadi. Banyak hal yang kemudian membuat saya berpikir dan merenungi. Desa tersebut, bisa saja dilalui darat. Namun, perlu menempuh waktu yang lebih lama, dengan kondisi jalan yang bukan main rusak.
Segala sesuatu yang saya temui pada saat itu, merupakan satu potret di pojok keramaian kehidupan kota. Sebenarnya tempat itu bukan kawasan terpencil. Saya juga jadi teringat wejangan yang diberikan seorang kawan beberapa waktu lalu. Seperti apapun diri kita, tetaplah menunduk dan merendah di hadapan siapapun.
Indahnya, jika kita, mampu untuk berbagi. Mereka juga adalah saudara kita. Masyarakat bangsa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar