DUDUK di atas batu karang, di sebuah pantai. Menatap ombak di tepi pantai, yang menabrakkan dirinya ke batu karang yang keras. Sangat keras, sehingga mengeluarkan dentuman yang menggelegar. Memecah sunyi. Angin pun bertiup kencang.
Damainya hati pada saat itu. Suara ombak dan terpaan angin, seolah menjadi penyejuk. Untuk menuju atas batu karang yang berada sekitar lima meter dari bibir pantai, tidak mudah. Seperti halnya mencapai kedamaian, butuh pengorbanan.
Karang kecil tajam, harus dilalui. Sedikit salah melangkah, air laut akan membasahi tubuh. Bahkan, bukan tidak mungkin akhirnya membawa celaka jika terbawa arus. Namun, ketakutan itu pada saatnya terkikis. Tentu saja ketika sudah berada di atas karang.
Gagahnya jasad ketika berdiri di atas batu karang. Menatap bentangan langit tanpa batas. Sengatan cahaya matahari sore, menghangatkan kulit dan merasuk kalbu. Indahnya. Sayangnya, aku tidak bisa selamanya berada di sana. Aku harus kembali, melalui jalur karang yang mengancam.
Seorang perempuan sudah menunggu di pantai. Seraya tersenyum, dia mengulurkan tangan kanannya. Telapaknya terbuka, dan membantu untuk beranjak dari batu karang tajam. Jemarinya kemudian memegang erat jemari tanganku. Berkat sodoran pertolongan itu, perjalanan melalui karang ternyata tidaklah terlalu sulit seperti pada awalnya.
Begitu menginjakkan kaki di pasir putih, dia memeluk jasad ini. Ketulusannya menggetarkan hati. Kedamaian pelukan ini mengalahkan kedamaian yang aku rasakan di atas batu karang tadi. Sungguh. Aku pun tidak mampu melakukan deskripsi.
Kemudian, kami menatap batu karang besar tadi. Dia menggelengkan kepala. Tanpa sepatah kata, perempuan itu menarikku untuk meninggalkan pantai itu. Perlahan, matahari itu sudah menenggelamkan diri ke dasar lautan. Kedamaian sesaat itu, aku tinggalkan. Ternyata, masih ada kedamaian abadi yang menunggu diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar