
MALAM itu, kami melihat pancaran cahaya yang keluar dari puncak Merapi. Terlihat sangat jelas dan indah. Apalagi, kami melihatnya dari atap di masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah.
Pemandangan yang terjadi pada empat tahun lalu itu bukan wisata alam. Namun, Gunung Merapi sedang mengalami erupsi dengan mengeluarkan suara gemuruh. Posisi kami, jauh berpuluh kilometer dari puncak gunung aktif tersebut.
Selama empat tahun berdiam dir, Merapi kembali mengamuk pada Selasa (26/10). Satu hari pasca meletusnya gunung dengan mengeluarkan awan panas atau wedhus gembel, puluhan warga tewas. Termasuk Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi. Puluhan ribu orang pun, terpaksa mengungsi.
Dalam hitungan jam sebelum meletusnya Gunung Merapi, gempa bumi terjadi di Mentawai Sumatera Barat dengan kekuatan 7.2 skala richter. Gempa tersebut, akhirnya menimbulkan gelombang tsunami. Sekitar 300 orang tewas dalam musibah itu. Lebih dari 300 orang juga hilang.
Sebulan sebelum terjadi gempa, musibah banjir bandang terjadi di Wasior, Papua Barat. Bencana ini juga memakan korban tewas ratusan orang. Padahal, Sumatera Barat baru saja sedang melakukan rekonstruksi karena diguncang gempa dan tsunami beberapa waktu lalu.
Gempa kecil juga sempat terasa di Bandung pada Rabu (27/10) malam. Walaupun kecil, guncangan itu cukup membuat panik beberapa rekan di kantor. Kami pun hanya bisa berdoa, tidak terulang lagi gempa yang menimpa Jawa Barat seperti pada September 2009.
Kekuatan alam, memang tidak bisa diprediksi. Secanggih teknologi yang dibuat manusia, hanya sebatas mampu meramalkan cuaca. Bukan bencana. Namun, paling tidak bisa mengantisipasi dengan adanya gejala-gejala bencana dengan generalisasi.
Pada Rabu (27/10) sore, juga terjadi kecelakaan pesawat di Nabire, Papua. Tiga perwira polisi tewas dalam kecelakaan yang menimpa pesawat jenis Skytruck yang menuju Ambon.
Sayangnya, wakil rakyat kami yang terhormat justru sibuk mempersiapkan diri untuk melakukan apa yang mereka sebut dengan studi banding ke luar negeri. Bahkan, Ketua DPR Marzuki Alie mengeluarkan statemen yang sangat ironis.
"Kalau tinggal di pulau itu sudah tahu berisiko, pindah sajalah. Namanya kita negara di jalur gempa dan tsunami luar biasa. Kalau tinggal di pulau seperti itu, peringatan satu hari juga tidak bisa apa-apa," katanya Rabu (27/10/2010) kemarin, dikutip dari Kompas.com.
Banyak komentar negatif yang dikeluarkan masyarakat di jejaring sosial dunia maya dengan pernyataan tersebut. Sekali lagi, sangat disayangkan. Sebagai seorang politisi yang berkompeten, pernyataan itu benar-benar tidak menunjukkan simpati dan empati kepada korban bencana.
Hari ini, peringatan Sumpah Pemuda. Momen perjuangan para pemuda, dengan mengucapkan sumpah pada 28 Oktober 1928. Sumpah itu berisi satu bahasa, satu bangsa, dan satu tanah air. Indonesia.
Mari kita kembali bangkit. Khususnya para pemuda. Letakkan sejenak segala kenikmatan hedonisme. Berdoa, atau melakukan apa saja untuk membantu para korban bencana. Mereka adalah saudara kita. Dan, suatu waktu, kita juga bisa menjadi korban. Pray for Indonesia!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar