
KEHIDUPAN kerja, membawa beberapa dampak negatif. Satu di antaranya adalah mulai lunturnya kehidupan dan rasa sosial. Setidaknya, perasaan itu merasuki diri saya saat ini. Saya merasa, mulai dirasuki angkuhnya egoisme.
Kehidupan dan rasa sosial yang saya maksud adalah berkumpul bersama manusia yang lain. Entah dengan kawan, tetangga, atau kerabat. Selain bercengkerama, juga bisa membantu dan menerima bantuan. Bukan atas kepentingan eksistensi. Namun, murni kepentingan kemanusiaan dengan ikatan emosional.
Saya menjadi merasa bersalah, karena tidak mampu menghadiri resepsi pernikahan yang dilaksanakan beberapa kawan dan kerabat. Tentu dengan alasan keterbatasan waktu. Jangankan membantu mereka. Untuk sekadar bertatap muka pun sangat tidak mungkin.
Hanya satu resepsi pernikahan seorang kawan yang bisa saya hadiri. Itupun hanya salaman, dan tidak lebih dari 10 menit! Sibuk? Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Belum lagi adanya beberapa undangan pernikahan yang sudah masuk.
Pergaulan memang sudah sangat mengerucut. Banyak mengenal orang lain, tapi bukan terikat secara emosional. Mengingat ketika ada sesuatu, dan terlupakan begitu urusan selesai. Berlaku untuk saya dan juga orang lain.
Namun, semua ini tidak bisa dihindarkan. Menahan orientasi begitu sulitnya. Proses kehidupan itu untuk perjuangan, atau hanya mempertahankan hidup. Sebuah pilihan.
Ini hanya pemaparan sebagai perenungan. Bukan sama sekali sebuah keluhan. Apalagi ketika memandang perumahan yang menjamur, yang mengkotak-kotakkan berdasarkan status manusia.
Meminjam istilah Karl Marx, bahwa manusia akan mengalami keterasingan karena adanya sistem kerja, mungkin ada benarnya. Semoga terkikisnya kehidupan sosial tidak kemudian diikuti dengan berkurangnya rasa sosial. Selamat berjuang!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar