Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

14 Agustus 2009

Idealisme Itu Mati Perlahan

KONSEKUENSI adalah satu keniscayaan dalam segala pilihan. Tidak banyak yang mengambil keputusan dengan berbagai konsiderasi. Jika merunut kepada teori yang menyatakan bahwa setiap manusia adalah makhluk yang rasional, maka, segala keputusan itu adalah hasil dari tindakan rasional.

Namun, teori itu kemudian dipatahkan dengan peran eksternal, yang cenderung dominan dalam pengambilan keputusan. Ini adalah satu bentuk analogi, dari pemikiran yang dianggap tidak lazim di era globalisasi saat ini.

Banyak orang berbicara mengenai idealisme, tetapi mereka bahkan tidak tahu, apa itu idealisme. Banyak juga yang menuduh orang lain terlalu idealis. Atau, ada yang memperkenalkan eksistensinya melalui kata idealisme. Bahkan, ada yang menganggap idealisme memang suatu paham yang tidak relevan jika disandingkan dengan lawan katanya, realisme.

Hakikat pemikiran intelektual adalah teoritis, empiris, dan akademis. Antonim dari kaum intelektual adalah praktis, pragmatis, dan realis. Keduanya pun memiliki takdir dan pemahaman yang berbeda. Perbedaan keduanya memungkinkan disatukan, dengan teori induksi dan deduksi. Tentu tidak berjalan seiringan. Keduanya pun ada kepentingan mendasar dalam mencari dominasi.

Kembali pada tema idealisme, yang identik dengan orang yang banyak berdialektika tanpa adanya tindakan. Alias omong kosong! Pemikiran idealisme, bukan tidak butuh logistik, yang dalam hal ini memiliki pemahaman materi. Namun, idealisme mencoba melakukan konstruksi, bagaimana cara mendapatkan logistik tersebut. Bukan dalam hal pemahaman realisme, yang menganut mahzab menghalalkan segala cara mencapai logistik.

Individu, memiliki idealisme masing-masing. Etika dan moral. Itulah satu bentuk idealisme yang ada pada ruh kita, tentu dengan standar yang berbeda. Pencapaian dalam standar, perlu adanya kesepakatan terlebih dahulu.

Sayangnya, dalam era keterbukaan atau demokratisasi, idealisme terkikis dengan dominasi profit oriented. Padahal, demokratisasi sendiri merupakan ciptaan dari idealisme. Pemikiran idealisme nyaris tidak mendapatkan tempat sedikit pun untuk menyatakan eksistensinya.

Sebagian besar para penganut idealisme itu pun mulai berguguran, karena tergiur dengan nikmatnya suatu harga yang ditawarkan.

Tidak ada komentar: