PADA suatu petang, kami bertemu di sebuah kafe. Pertemuan itu memang sudah kami rencanakan sebelumnya. Dia memesan satu gelas jus jeruk, aku memesan nasi goreng dan segelas jus alpokat.
Namun, baru beberapa suap aku menikmati nasi goreng itu, wajahnya memerah. Dia lalu mencopot kacamata minusnya. "Aku merasa, hubungan ini sepertinya tidak perlu dilanjutkan, karena sudah jauh dari yang aku harapkan," katanya lirih. Dia menunggu jawaban dariku, yang masih saja menyantap nasi goreng pedas itu.
"Ya sudah, teruskan, apa yang sayang keluhkan dari hubungan ini. Aku siap mendengar," kataku. Aku pun tidak menatap matanya, karena aku yakin, apa yang dikatakannya hanyalah sebuah hal yang mengada-ada.
Setelah beberapa menit meluapkan segala perasaannya, aku kemudian menghentikan santapan. Padahal, nasi itu masih setengah porsi. "Sebenarnya nasi ini enak, tapi karena sayang ngomong seperti itu, rasanya jadi seperti makan singkong," ujarku.
"Sudah selesai? Sekarang gantian aku yang ngomong," tegasku. Dia hanya mengangguk, menandakan sudah selesai dengan argumentasinya. Aku berusaha meyakinkan dengan apa yang kurasakan selama ini, dan untuk mempertahankan hubngan ini.
Sesaat setelah dia mendengarkan semua penjelasanku, dia terdiam. Air matanya menetes, tetapi matanya masih menatapku. "Maafkan aku ya sayang, aku juga bingung dengan diriku sendiri," ucapnya.
Kami kemudian keluar, menuju satu tempat perbelanjaan yang berada tepat di depan kafe tadi. "Yank, anter beli susu dulu ya, buat anak-anak penderita. Ayank tidak marah kan? Maaf ya," rayunya seraya menggandeng tanganku.
Yah, karena ia adalah Ketua Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS, tanggungjawabnya adalah mengurus anak-anak penderita.
Pertemuan itu memunculkan kesepakatan baru, bagi hubungan kami. Sekaligus, dia tidak akan menangis lagi di hadapanku.
1 komentar:
njuk trs piye? isih lanjut po ra iki????
Posting Komentar