TIDAK ada yang abadi. Begitu pun dengan kedamaian. Hidup terus mengalami fluktuasi, satu implikasi dari adanya dinamika. Nyaris tidak ada waktu untuk menghela nafas panjang. Tuntutan demi tuntutan, berdatangan tidak kunjung berhenti.
Jiwa ini sungguh berharap bisa menemukan kedamaian, walau untuk sesaat. Kontemplasi butuh ruang, waktu, dan materi yang tepat. Kontemplasi tidak bisa dipaksakan. Terkadang terjadi deviasi saat tidak fokus.
Namun, semua harus berjalan dan mengalir. Langkah terus berjalan, dengan sedikit tertatih. Terkadang terhenti, karena konfrontasi berbagai alur pemikiran. Gesekan-gesekan aksi, memang seharusnya terjadi.
Saat beberapa jasad menghampiri untuk menawarkan pertolongan, dengan sigap, tongkat yang mereka sodorkan terhempas. Arogansi jiwa memenuhi setiap aliran darah, memporakandakan rasionalisme dan membuatnya terpojok dalam sudut hampa.
Kini, kedamaian abadi hanya bisa ditemukan, saat jiwanya melepas jasad yang selama ini dihuninya. Kedamaian itu akan hadir dalam materi, waktu, dan ruang yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar