Langit mendung pada Jumat (10/10) menutup sinar purnama yang biasanya menerangi di Yogyakarta yang kian padat penduduknya. Namun, setiap musim liburan tiba, terlihat tidak ramai seperti hari biasanya. Maklum, kota yang berpredikat sebagai kota pelajar itu dipadati pendatang yang mencoba mendapatkan gelar pendidikan. Mereka berasal dari seluruh kota di Indonesia, bahkan dari luar negeri.
Beberapa warung makan dadakan yang biasanya memenuhi tepi jalan pun terlihat tidak menjajakan menu masakannya. Kos-kosan juga banyak yang ditinggal mudik penghuninya, walaupun ada juga yang tetap bertahan. Sebagian besar dari mereka yang tinggal memang tidak merayakan lebaran.
Di satu warung kopi di sekitar kampus UGM, menikmati suasana malam ditemani secangkir kopi dan seorang perempuan cantik. Pertemuan itu menjadi klimaks dari segala pertanyaan yang bersarang di otak kiri. Mencoba memecahkan anomali bersama, yang dianalogikan pada permainan puzzle.
Namun, permainan teka teki yang sudah tidak sempurna itu harus terabaikan. Puzzle itu tergeletak dengan sebagian besar bagiannya yang belum terpasang.
"Ganti saja dengan puzzle baru dengan bentuk lain dan sempurna," kata perempuan berkulit putih itu. Kalimat yang menutup rapat satu harapan. Sama ketika permainan teka teki itu dilakukan dengan orang lain.
Sebenarnya, penganalogian itu menjadi upaya dalam memahami satu karakter. Mencoba melakukan verifikasi terhadap kata seorang kawan pada satu saat. Untuk sementara, terjadi kata sepakat dengan pembuktian.
Tak seharusnya
Pertemuan, pertemanan, dan hubungan romantisme itu memang tidak seharusnya. Tidak pada ruang dan waktu yang tepat. Namun, itulah seni dalam memperoleh sesuatu. Kebiasaan untuk melakukan dan mendapatkan yang tidak seharusnya dilakukan orang banyak, merupakan ciri karakter. Tentu saja, terdapat legitimasi kuat dan mendasar.
Menjadi sempurna dan berbobot ketika perempuan itu paham akan satu bentuk analogi.
Pemahaman yang belum tentu mampu dipahami dan dimengerti sebagian besar manusia.
Kami segera beranjak dari kafe ketika waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sinar purnama masih bersembunyi di balik mendung, seakan mendengar dan tahu hasil pembicaraan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar