Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

07 Oktober 2008

Fantasi Abadi...

Tangan itu kuraih dan kupegang erat, kugandeng tangannya ketika menuju satu bioskop di Yogyakarta. Akhirnya, rasa takut itu perlahan menyingkir.
Wajah putih itu langsung memerah, lesung kedua pipi sedikit terlihat dalam senyuman kecilnya. Ia hanya terdiam dan merunduk malu.

Kedua tangan dengan warna kulit yang kontras itu masih saja terus bergandengan, seraya menikmati film karya putera bangsa, Barbi3. Genggaman tangan makin kuat dan masih pada tempatnya. Sesekali ia menarik genggaman itu dan tertawa, terbawa alur cerita film yang sedikit kocak.

“Setelah ini, ke mana Tan?” tanyaku padanya.
“Makan nasi,” jawabnya singkat, sedikit jutek tentunya.
“Tempatnya lesehan dan remang-remang ya,” ujarku memberi opsi tempat makan.
Kami sampai di sebuah warung makan di kawasan Mataram, Yogyakarta. Ia memesan masakan udang kegemarannya, ditemani jus jeruk. Aku hanya memesan ayam goreng dan jus alpokat.

Satu malam terindah. Kekagumanku semakin menjadi ketika pengertiannya akan pemikiran yang sedikit orang mau mengerti. Aku kembali menggenggam erat tangannya, seraya menatap wajah sayu nan putih itu.

Anomali, masih berdiri di antara hubungan romantisme itu. Namun, hubungan itu mampu menjadi satu faktor penting dalam satu proses akhir kontemplasi. Dengannya, bangunan idealisme kembali berdiri walau masih tertatih. Ia menjadi nyata dengan pemikirannya yang merebut pemikiran ini.

“Teruslah berkarya untuk mengasah intelektual dan kepekaan terhadap keadaan sekitar,” ujar seorang kawan melalui telepon pada satu malam.

“Ayo ikut makan!” teriak seorang kawan wartawan media lokal di Yogyakarta. Ajakan tersebut menyadarkanku dari lamunan tadi. Sayang, kejadian gandengan tangan di atas, hanyalah lamunan, satu bentuk fantasi abadi.

Tidak ada komentar: