TERBANGUN dengan suara beruntun Blackberry Messanger, yang tergeletak di rak kecil, dan memiliki posisi di sebelah kiri tempat tidur. Entah berapa kali suara itu memekakkan telinga pada suatu pagi. Sebenarnya tidaklah terlalu keras, dibandingkan dengan alarm jam yang diatur pada pukul 05.30.
Begitu dibuka, isi pesan itu berupa hujatan, cacian, dan umpatan. Itu komentar sejumlah kawan, terhadap foto yang terpampang di profil Blackberry Messanger. Foto itu adalah saya dan seorang perempuan berkulit putih.
Pose foto itu memang terbuka. Artinya, yang terlihat dari sang perempuan hanya seutas tali baju, model u can see sebelah kiri. Dia menghadap membelakangi kamera, dengan pundak yang tampak dari belakang. Sedangkan di antara pundaknya, terdapat tato laiknya burung Garuda.
Saya tampak memegangi tali bajunya, seolah hendak membukanya, dengan wajah menatap tato hitam itu. Namun, itu sekadar berpose, di sebuah kafe yang buka hingga dinihari, yang ada di kota ini.
Dari sekian pesan yang masuk, hanya satu orang yang memuji foto itu. Perempuan itu melihat dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, ada sisi arts, dan bukan foto yang menyajikan eksotisme. Namun, ada juga seorang kawan yang berkomentar, gambar itu menantang image yang saya bentuk selama ini.
Bagi saya, persetan dengan semua komentar itu. Namun, gambar itu beredar di ruang publik, yang tentu saja bagi penikmatnya, bebas untuk berkomentar. Dengan beragam pertimbangan, akhirnya saya ubah dengan gambar lainnya.
Foto itu menjadi satu bentuk generalisasi penilaian persepsi seseorang. Pose dalam foto itu, sekadar ekspresi saya yang mengagumi tato yang melekat pada pundak putih sang perempuan. Toh, kita hidup dalam sistem demokrasi yang memiliki instrumen egaliter.
Sebenarnya, saya muak melihat kemunafikkan yang ada pada diri manusia. Sadar atau tidak, mereka seringkali menunjukkannya dengan caranya masing-masing. Dalam konteks foto tadi, itulah bentuk kegilaan ekspresi. Saya bebas melakukannya, dengan konsekuensi terbentuknya stigma.
Paradigma stigma memang sulit diubah. Seperti halnya persepsi positif. Namun, keduanya menampilkan hasil yang berbeda. Yaitu senang, ketika melihat kebaikan manusia yang pernah melakukan kesalahan, dan kecewa melihat manusia baik yang berubah menjadi buruk.
Ada manusia yang berkata baik, dengan kelakuan sebaliknya, dan ada juga manusia yang bertutur buruk, tetapi tidak dengan kelakuannya. Sulit menemukan manusia yang sinkron, antara perbuatan dan ucapnya. Dan kemudian, saya pun menganggap kemunafikan merupakan keniscayaan yang selalu hadir pada diri manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar