PERLAHAN, suara itu semakin jelas menembus sunyinya malam. Ratusan perempuan tua, duduk di pelataran di sebuah pondok pesantren, yang ada di Kempek, Kabupaten Cirebon. Mereka mengenakan jilbab, dan saksama mendengarkan suara pengajian yang berasal dari dalam bangunan. Suara itu belum pasti dari mana asalnya.
Masuk lebih dalam, ternyata sebagian perempuan muda dan laki-laki, mengamati dan mencoret kitab kuning yang ada di hadapannya. Kitab itu setebal 234 halaman. Rumah bertingkat dua yang juga merupakan bangunan utama pesantren itu, penuh dengan para jemaah dan santri. Sungguh pemandangan yang baru pertama kali saya temui.
Saya sempat berkeliling di sejumlah bangunan yang ada di sekitarnya. Sebagian besar para santri, sibuk beraktivitas membaca kitab yang dipegangnya. Di satu pelataran masjid, para santri secara bergantian membaca Alquran di hadapan ustaznya. “Kalau ada yang salah, ustaz akan mengentakkan tongkatnya ke meja. Kalau sampai salah tiga kali, santri harus pergi dan mengulangnya pada hari esok,” kata santri yang memandu saya pada malam pertengahan bulan Ramadan tahun ini.
Suara yang saling bersahutan itu, membuat sejuk dan menembus kalbu. Saya sejenak termenung. Ternyata, saya belum apa-apa dibandingkan dengan mereka. Dunia itu terasa begitu asing. Jauh berbeda dengan dunia yang selama ini ada di hadapan saya. Orientasi dunia luar, didominasi kepentingan pribadi atau materi (duniawi).
Mungkin mereka adalah orang-orang terpilih, dan inilah calon pemimpin yang sebenarnya. Apalagi kalau kemudian pengetahuan agama itu dikolaborasikan dengan kekuatan intelektual. Bisa dipastikan, kekuatan mereka sulit ditaklukkan.
Pada setiap Ramadan, para santri diwajibkan mengkhatamkan satu kitab kuning. Paling tidak, mereka harus bias menyelesaikan pelajaran dan memahaminya sampai tanggal 25. Padahal, setiap satu tahun, mereka hanya bisa menyelesaikan satu kitab. “Itulah kekuatan Ramadan. Luar biasanya sulit untuk dibahas, karena bulan penuh berkah,” kata pemimpin pondok pesantren itu.
Kitab kuning yang diajarkan kepada mereka, merupakan tafsiran beragam ulama. Tafsiran itu jumlahnya tidak terhingga. Namun, mereka mempelajarinya untuk mengkayakan informasi, dan kemudian mengaplikasikannya ke dalam kehidupan. Sungguh terdengar indah. Bagi santri, mempelajari kitab, memiliki implikasi saling mengingatkan manusia yang lain.
Satu hal yang tidak mungkin terlupakan berada di kota ini. Saya sedikit mengetahui tentang kehidupan para santri. Seorang santri mengaku baru menguasai tiga kitab selama berada di pesantren 12 tahun. Bandingkan dengan saya, yang tidak paham satu pun kitab tafsir ulama itu.
Ternyata, tidak ada gunanya menyombongkan sesuatu secara duniawi. Bagi saya, para santri itu melakukan proses bagaimana menjadi manusia yang sebenarnya, walaupun tanpa terlepas dari nilai.
3 komentar:
sadarlah bro..
kembalilah ke jalan yang benar.
wkwkwkwkkwkwkwwk
bro, jelek amat templatenya.. lebih keren yang lama...
ah.. hilang deh warna hitamnya. ")
wuakakakakakaka... ini sedang proses bror... msak sih jelek yang sekarag?
Posting Komentar