HAL sepele. Sepatu. Tapi, ternyata bukan hal sepele atau hal yang harus diperhatikan bagi sebagian orang. Termasuk sejumlah teman. Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan kiriman foto saya dengan sepatu di wall situs jejaring pertemanan dari seorang kawan. Mereka, entah mengkritisi atau memperolok sepatu yang saya kenakan pada saat menghadiri resepesi perkawinan di Solo.Sepatu itu biasa disebut sepatu warrior. Tingginya menutupi tumit, terbuat dari kanvas, dan hitam tanpa motif dengan menggunakan tali sebagai pengikatnya. Sepatu sejenis itu, saya gunakan sejak pertengahan kuliah, sampai pada saat saya bekerja sekarang. Bagi saya, sepatu seperti itu nyaman digunakan, karena bisa leluasa bergerak. Harganya, hanya Rp 250 ribu.
Mungkin, memang tidak pantas kalau digunakan pada acara resepsi. Apalagi saya mengenakan baju batik yang dipadu celana jins hitam yang ketat. Saya menyadari hal itu. Pada saat bekerja, saya selalu lebih menyukai mengenakan sepatu yang sudah tampak kusam itu. Sekali lagi, nyaman untuk digunakan. Benarkah tidak pantas untuk dilihat?
Kritikan lebih keras, justru diungkapkan seorang pacar pada saat kuliah. Dia mengancam akan membuangnya, kalau saja saya masih tetap menggunakan sepatu itu. Hal sepele, yang kemudian menjadi satu penyebab kami berpisah. Memang, dia berjanji akan memberikan sepatu yang baru seandainya sepatu warrior itu dibuang. Pokoknya, dia kudu mengatur bagaimana seharusnya saya tampil.
Sebelum mendapat kiriman foto dari kawan, pertanyaan juga pernah diajukan perempuan yang bertemu saya di kereta api. "Kenapa sih, orang dengan profesi yang sama banyak menggunakan sepatu seperti itu, yang dipadukan dengan celana jins hitam ketat. Apa artinya? Apakah kalian identik dengan gerakan kiri atau menunjukkan kalian memiliki pemikiran yang idealis?" tanyanya, yang kebetulan perempuan yang sudah saya kenal sejak lama.
Tentu saya hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. Saya tidak membantah, bahwa manusia bisa dinilai ke mana arah berpikirnya hanya dari penampilan. Itu bentuk generalisasi. Tapi, manusia bebas menggunakan apa yang disukainya, sepanjang hal itu tidak merugikan manusia lainnya. Toh sekarang merupakan zaman egaliter, yang merupakan instrumen dari sistem demokrasi bukan?
Bagaimanapun, saya tetap menghargai penilaian kawan-kawan, dan dua perempuan itu. Mereka bermaksud baik, agar saya terlihat lebih "elegan" dari penampilan. Namun, biarkanlah saya dan sepatu itu tetap eksis. Pada satu titik, mungkin saya akan melepas dan menggantinya dengan sepatu yang lebih formal. Entahlah...
5 komentar:
saya baru tahu, gara2 sepatu bisa putus cinta.. wkwkwkwk
wuakakakakakkakaa.. satu di antara beberapa faktor bro.. tapi yang paling sering diributin ya ini.. eh, dengar-dengar ko baru ketemu pengatin baru di toilet ya? bagus buat tulisan tuh.. wuakakakaakka
pengantin baru di toilet.?
ahh, ngarang loe...
wkwkwkwkwkwk...
lo ini suka gosip juga yah.? wkwkwkwkwkwk
wuakakakaakkakaka.... gimana tuh gosipnya? ceritakan pada saya...
Posting Komentar