JUMAT (31/12/2010) pagi, sudah terdengar sahutan terompet yang ditiupkan puluhan penjual di pinggir jalan. Moncong terompet dengan berbagai ukuran itu, diarahkan kepada pengguna jalan. Semakin siang, badan jalan, semakin dipenuhi kendaraan roda empat. Dari yang mewah, sampai mobil tua. Kendaraan roda dua pun, tak mau kalah ikut andil.
Beranjak malam, suasana begitu ramai. Sahutan terompet, seolah bersaing dengan suara kembang api yang menerangi langit. Belum lagi dengan kebisingan suara klakson, dan geberan knalpot kendaraan roda dua. Padahal, waktu masih menunjukkan pukul 19.00.
Nyaris di semua sudut kota, dipenuhi kerumunan manusia. Ada yang sembari duduk di atas motor, atau berkeliling berjalan kaki dengan meniupkan terompet. Mereka, berbahagia dan menyambut kedatangan pergantian tahun Masehi.
Malam itu, seolah menjadi sebuah kebebasan bagi siapapun. Manusia bebas melakukan apapun yang mereka sukai. Mereka tidak mau tahu, apakah yang lain suka atau tidak dengan apa yang dilakukan. Tidak ada yang mampu menghalanginya.
Detik-detik pergantian tahun, justru semakin riuh. Ledakan kembang api membahana di langit. Terompet ditiupkan sekeras-kerasnya tanpa henti. Klakson terdengar semakin keras dan panjang, tanpa irama. Sekali lagi, luapan kebebasan terulang setiap tahun.
Pada sisi lain, terdapat kalangan yang menamakan dirinya sebagai kaum religius, melakukan ritual doa. Harapan mereka, normatif. Yaitu, keselamatan bagi umat manusia, dan menjadi lebih baik dibandingkan masa lalu. Hanya itu.
Berbagai media massa, menyajikan berbagai peristiwa yang dianggap penting dan menarik, selama satu tahun lampau. Banyak permasalahan, yang begitu saja terlewati. Padahal, permasalahan itu harus segera, dan segera diselesaikan. Sekali lagi, pengulangan terjadi.
Memang, menjadi sebuah kebahagiaan. Masih menghirup udara, dan menikmati duniawi selama tahun lalu. Apalagi, diberi kesempatan melihat pergantian waktu. Masalah mau dirayakan seperti apa, itu kemudian menjadi hak prerogatif masing-masing.
Saya, anda, atau kalian, memiliki visi dan misi yang berbeda pada masa mendatang. Namun jangan lupa, dengan apa yang telah terjadi dan memang harus terjadi. Sekadar berefleksi sejenak, untuk kemudian melakukan rekonstruksi di masa mendatang. Selamat menempuh kehidupan baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar