Welcome to The Psycho...

"Aku bukan komunis, bukan pula humanis. Aku adalah segalanya, mengungkapkannya dengan menyusun kata per kata.."

07 Juli 2010

Demonstrasi itu...

SEORANG orator, dengan lantang dan tegas meneriakkan tuntutannya di atas mobil dengan bak terbuka. Tangan kanannya memegang mikropon, sedangkan tangan kirinya mengangkat pengeras suara yang diangkat tinggi. Tidak perduli, panas terik yang menyengat kulit.

Di bawah sang orator, puluhan orang membawa spanduk. Sebagian berisi tuntutan, dan sebagian lainnya bertuliskan hujatan. Mereka juga berteriak, menyahut serentak setelah sang orator meneriakkan tuntutan.

Puluhan personel polisi, berdiri di depan para pengunjukrasa. Menahan para pengunjukrasa agar tidak memasuki kantor pemerintahan. Tangan polisi itu, menggandeng membentuk pagar betis. Beberapa meter di belakang polisi, disiapkan dua unit mobil water canon atau meriam air.

Inilah pemandangan yang sering terlihat kalau ada aksi demonstrasi. Aksi yang dianggap merupakan satu cara dari cara berdemokrasi, untuk menyalurkan aspirasi. Tidak jarang, aksi ini menjadi anarkis. Bentrokan dengan aparat tidak terhindarkan. Bahkan, beberapa waktu lalu, seorang pejabat di Medan tewas akibat dipukuli para pengunjuk rasa.

Namun, ternyata banyak aksi demonstrasi yang hanya sekadar aksi unjuk kekuatan. Bahkan, unjukrasa bisa menjadi proyek tawar menawar harga. Dalam artian, sesuai pesanan pemilik modal. Isu yang diusung pun kemudian bisa dibelokkan ke isu lain. Asal harga cocok, silakan.

Aksi demonstrasi hanya sebagai kedok. Apalagi, mereka juga sering mengatasnamakan rakyat kecil. Yang mana? Mungkin ini sebagai sebuah cerita klasik. Tapi nyatanya, modus ini masih dianggap efektif untuk meningkatkan bargaining sebuah organisasi. Baik dari LSM, ormas, ataupun kalangan intelektual.

Untungnya, masih ada beberapa elemen yang menggelar aksi unjukrasa atas perjuangan idealisme. Bukan mencari posisi ataupun beberapa lembar ratusan ribu. Selamat berjuang, rakyatku..

Tidak ada komentar: