BAGAIMANA wajah itu bisa hilang dari ingatan? Senyuman yang keluar dari bibir tipis itu begitu menggoda. Setiap kali mengingat keduanya, aku hanya bisa ikut tersenyum. Masa-masa itu adalah masa yang dinantikan.
Tidak hanya abstraksinya yang begitu menarik hati. Eksistensinya juga sangat berarti. Balutan kerudung putih itu menjadikannya lebih sempurna dibandingkan lainnya. Terlalu indah untuk kemudian dilewatkan begitu saja.
Namun, pada satu titik, aku tidak bisa menikmati seutuhnya. Aku pun tidak mampu menggenggam jasadnya untuk selamanya. Hanya rasa ini, yang bisa mengendap dan terasa. Entah sampai kapan. Aku pun tidak tahu kapan semuanya akan berakhir. Baik dari hati ini maupun hatinya.
Keabadian hanya bisa terjadi pada ketidakabadian. Seperti halnya konsistensi yang hanya berlaku pada inkonsistensi. Ah, aku masih saja terus bergumul dengan retorika. Padahal, dia nyata berdiri tepat di hadapanku.
Dia masih berdiri di hadapanku untuk beberapa waktu. Tetap setia mendampingi dan membayangi setiap pikiran. Tatapanku juga masih fokus kepada wajahnya. Namun, hanya tatapan dan jasad ini yang terpaku pada dirinya.
Fantasiku akhirnya berlari ke mana pun dia mau. Liar dan terlalu bebas. Aku tidak mampu menggenggam pikiranku sendiri. Dan, sekali lagi. Aku masih melihatnya berdiri di depanku. Masih dengan senyuman kecil manis itu.
Kedua tangannya kemudian menyentuhku. Jasadku bergetar. Aliran darah mengalir dengan derasnya. Aku menghela nafas panjang. Dia tetap tersenyum sembari memandangku yang hanya bisa terdiam. Kedua tubuh ini masih saling berhadapan, dalam jarak beberapa sentimeter.
Sayang, aku tetap tidak bisa menggenggamnya. Pejaman kedua mata ini, menghempaskan pegangan kedua tangannya. Aku berpaling berbalik arah. Aku sadar, aku pun tetap tidak bisa menggenggamnya sampai kapan pun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar