BEGITU banyak, intelektual-intelektual muda yang mengaku dirinya menjadi aktivis saat kuliah. Pemikiran mereka pun terlihat kritis, dan out of context dibandingkan yang lain, yang sekadar menuntut ilmu.
Namun, sepertinya ada perubahan orientasi ketika memasuki dunia kerja. Tentu, zaman dulu pemikiran mereka adalah hasil pemikiran akademisi orisinil. Kepentingan masih terbatas, pada eksistensi diri.
Bahayanya, perubahan orientasi itu terletak pada esensi pemikiran mereka. Sehebat dan selantang apapun, akan menjadi tidak berpengaruh apa-apa, kecuali hanya sekadar penambah referensi. Satu bentuk penilaian orisinalitas pemikiran intelektual, bisa dilihat dari pengaruhnya bagi yang lain.
Permasalahan yang menjadi sorotan, adalah isu suap. Hal ini sangat krusial, karena kaitannya dengan materi. Seorang kawan pernah berkata,"Kamu belum punya tanggungan (anak dan istri) sih, nanti kalau sudah ada tanggungan, kamu akan merasakan."
Beragam alasan diajukan, bagi legitimasi sebuah keputusan. Memang, alasan itu logis dan bisa diterima. Apalagi, penawaran suap memang menggoda dari segi nominal. Benturan hati dan pemikiran, akhirnya tidak terelakkan. Sejauh mana, kita bisa bertahan dari serangan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar