
TIDAK ada yang konsisten, kecuali konsisten dalam inkonsistensinya. Hakikat konsisten adalah tetap, atau statis. Biasanya, dalam ilmu sosial, konsisten identik dengan pemikiran dalam merumuskan sebuah teori menjadi tindakan.
Konteks konsisten pun tidak lepas dari menulis. Menulis bisa dirumuskan menjadi sebuah tindakan, karena merupakan hasil dari karya pemikiran manusia. Menulis hanya merupakan satu dari jutaan profesi atau bakat. Namun, saat ini, menulis tidak hanya menjadi milik jurnalis, penulis buku, atau kalangan akademisi. Ibu-ibu rumah tangga pun, bisa menulis.
Inilah zaman yang disebut dengan citizen journalism. Perkembangan teknologi, menjadi wadah bagi siapapun untuk menulis, yang juga bisa dibaca siapapun di belahan dunia ini. Beragam tulisan pun bermunculan. Ada yang sekadar curhat, karya ilmiah, catatan perjalanan, sampai kuliner. Nah, komunitas ini pun ternyata dibutuhkan sebagai media gratis bagi perusahaan-perusahaan yang ingin terpublikasi di media maya.
"Untuk mengenalkan konsep hotel, saya undang beberapa teman untuk datang dan berkeliling hotel sampai masuk ke dapur. Setelah itu, mereka akan menulis di blognya masing-masing dengan beragam cerita tentang hotel ini," jelas seorang Manager Public Relation di Bandung, beberapa waktu lalu. Strategi marketing itu ternyata cukup ampuh. Beberapa tamu hotel, khususnya yang berada di luar negeri, ternyata tahu keberadaan hotel dengan segala fasilitasnya dari blog.
Dari sebuah tulisan, apa yang dipikirkan, atau sekaligus karakter pemikiran bisa diraba. Saya sering baca tulisan-tulisan dari penulis Budi Shambazy di Kompas setiap Sabtu. Tulisan itu begitu enak dibaca, sekaligus bermanfaat dan berbobot. Opini itu penting, tanpa meninggalkan kehumanisannya. Kalangan intelektual, bahkan mungkin masyarakat awam bisa paham dengan makna tulisan itu.
Namun, tidak semua blog itu kemudian bertahan. Menulis memang tidak mudah dan tidak bisa dipaksakan. Banyak yang mulai berguguran, dengan beragam alasan.
Tulisan yang baik, idealnya memiliki beberapa fungsi. Seperti misalnya, intelektual benefit. Tidak semua penulisan, atau berita yang mampu memberikan fungsi tersebut. Kecuali bagi mereka, yang benar-benar menulis dari hasil mengoptimalkan fungsi kelima inderanya dengan situasi di sekelilingnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar